Di dalam dunia kerja, competence dengan competency sering dianggap dua hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan.
Competence atau kompeten berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki karyawan dalam melakukan pekerjaan dari hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya.
Sedangkan competency atau kompetensi berkaitan dengan perilaku atau sikap yang menjadi dasar bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan.
Dalam dunia kerja, penting bagi Anda untuk memahami kompeten dan kompetensi, termasuk perbedaan yang dimiliki keduanya.
Khususnya bagi tim HR dimana kompeten dan kompetensi ini berhubungan erat dengan proses rekrutmen di perusahaan.
Lalu apa saja perbedaan competence dengan competency? Lalu bagaimana cara meningkatkannya di tempat kerja?
Pada artikel ini GajiHub akan menjelaskan secara lengkap mengenai perbedaan competence dengan competency.
Untuk penjelasan lengkapnya Anda dapat membacanya di bawah ini:
Mengapa Penting Memahami Perbedaan Competence dan Competency?

Sebelum membahas mengenai perbedaan antara competence dengan competency, penting untuk memahami mengapa penting bagi Anda (khususnya HR) memahami perbedaan keduanya.
Seperti yang diketahui, banyak perusahaan menyusun job description, performance appraisal, hingga training need analysis dengan mencampuradukkan kedua istilah ini.
Akibatnya, penilaian terhadap karyawan menjadi kurang akurat karena aspek yang dinilai tidak jelas.
Apakah yang dinilai adalah kemampuan teknis (competence) atau perilaku kerja (competency).
Ini berbeda ketika HR mampu memahami perbedaan keduanya di mana HR bisa mendapatkan keuntungan sebagai berikut:
- Proses rekrutmen menjadi lebih terarah karena kriteria seleksi lebih spesifik.
- Penilaian kinerja lebih objektif karena memisahkan aspek kemampuan teknis dan perilaku.
- Program pelatihan dan pengembangan karyawan lebih tepat sasaran.
- Perencanaan jenjang karier (career path) menjadi lebih realistis.

Pengertian Competence dan Competency

Setelah membahas mengenai pentingnya memahami perbedaan antara kompeten dengan kompetensi, ini saatnya membahas pengertian keduanya.
Competence atau kompeten secara sederhana diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu.
Kompeten berkaitan erat dengan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kemampuan teknis (technical ability) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Sederhananya, competence digunakan menjawab pertanyaan: “Apakah seseorang mampu melakukan pekerjaan ini?”
Contoh competence dalam pekerjaan:
- Kemampuan seorang akuntan dalam menyusun laporan keuangan sesuai standar akuntansi.
- Kemampuan seorang programmer dalam menulis kode menggunakan bahasa pemrograman tertentu.
- Kemampuan seorang desainer grafis dalam mengoperasikan software desain seperti Adobe Photoshop atau Illustrator.
- Kemampuan seorang customer service dalam menggunakan sistem CRM perusahaan.
Kompeten bersifat lebih spesifik dan terukur karena berkaitan langsung dengan hasil kerja (output) yang dapat dinilai secara kuantitatif maupun kualitatif.
Kompeten juga cenderung berfokus pada aspek teknis dan fungsional dari sebuah pekerjaan.
Berbeda dengan competence, competency merujuk pada perilaku, sikap, dan karakteristik yang mendasari bagaimana seseorang menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam bekerja.
Competency lebih menekankan pada aspek behavioral atau perilaku kerja yang mendukung keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugasnya.
Competency menjawab pertanyaan: “Bagaimana cara seseorang melakukan pekerjaan tersebut?”
Contoh competency dalam pekerjaan:
- Kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan tim maupun klien.
- Kemampuan memimpin (leadership) dan mengambil keputusan di bawah tekanan.
- Kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja.
- Kemampuan bekerja sama dalam tim (teamwork) dan menyelesaikan konflik.
- Inisiatif dan orientasi pada hasil (result-oriented).
Competency sering kali bersifat lebih umum dan dapat diterapkan lintas jabatan maupun lintas industri.
Misalnya, kemampuan leadership dibutuhkan baik oleh seorang manajer pemasaran maupun manajer produksi, meskipun competence teknis kedua posisi tersebut berbeda.
Baca Juga: Penilaian Kompetensi: Jenis, Metode, dan Manfaatnya
Apa Perbedaan Competence dengan Competency?
Untuk memahami perbedaan competence dengan competency secara lebih jelas, berikut 5 aspek yang membedakan keduanya:
1. Fokus Utama
Competence berfokus pada apa yang dapat dilakukan seseorang (kemampuan teknis dan fungsional).
Sedangkan competency berfokus pada bagaimana seseorang melakukan pekerjaan tersebut (perilaku dan sikap kerja).
2. Sifat Pengukuran
Competence umumnya lebih mudah diukur secara kuantitatif melalui sertifikasi, ujian, atau uji kompetensi.
Sedangkan competency lebih sulit diukur karena bersifat kualitatif dan berkaitan dengan observasi perilaku dalam jangka waktu tertentu.
Baca Juga: 5 Daftar Competency Development Program untuk Perusahaan
3. Ruang Lingkup
Competence bersifat spesifik terhadap suatu pekerjaan atau jabatan tertentu.
Sedangkan competency bersifat lebih luas dan dapat diterapkan pada berbagai posisi maupun level jabatan.
4. Dasar Pembentukan
Competence terbentuk melalui pendidikan formal, pelatihan teknis, dan pengalaman praktik langsung.
Sedangkan competency terbentuk melalui kombinasi antara kepribadian, nilai-nilai individu, pengalaman hidup, serta kebiasaan kerja yang terbentuk seiring waktu.
Baca Juga: Competency Mapping: Manfaat, Skala, Cara, dan Contohnya
5. Contoh Penerapan
Competence contohnya adalah kemampuan mengoperasikan mesin produksi.
Sedangkan competency contohnya adalah kemampuan bekerja sama dengan rekan kerja saat mengoperasikan mesin tersebut dalam situasi yang penuh tekanan.
Agar Anda bisa lebih memahami perbedaan antara kompeten dengan kompetensi, berikut tabel perbedaan keduanya:
| Aspek | Competence | Competency |
|---|---|---|
| Definisi | Kemampuan atau kecakapan teknis dalam melakukan pekerjaan | Perilaku dan sikap yang mendasari cara seseorang bekerja |
| Fokus | Apa yang bisa dilakukan (hasil kerja) | Bagaimana cara melakukan pekerjaan (proses kerja) |
| Sifat | Spesifik terhadap tugas atau jabatan tertentu | Umum dan lintas jabatan/industri |
| Pengukuran | Lebih mudah diukur secara kuantitatif (sertifikasi, tes, ujian) | Lebih sulit diukur, cenderung kualitatif (observasi perilaku) |
| Sumber pembentukan | Pendidikan formal, pelatihan teknis, pengalaman kerja | Kepribadian, nilai, pengalaman hidup, kebiasaan kerja |
| Contoh | Menguasai software akuntansi, mengoperasikan mesin produksi | Komunikasi efektif, kepemimpinan, kerja sama tim |
| Perubahan | Dapat ditingkatkan melalui pelatihan teknis spesifik | Berkembang melalui pengalaman, refleksi diri, dan pembinaan (coaching) |
| Orientasi | Berorientasi pada hasil (output) | Berorientasi pada proses dan perilaku (behavior) |
Baca Juga: Core Competency: Arti, Contoh, dan Cara Mengidentifikasinya
Apa Manfaat dari Competence dan Competency di Tempat Kerja?

Baik competence maupun competency memiliki peran penting yang saling melengkapi dalam dunia kerja.
Berikut manfat yang dimiliki oleh keduanya:
1. Proses Rekrutmen dan Seleksi Karyawan
Dalam rekrutmen, competence digunakan untuk menilai apakah kandidat memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan, misalnya melalui tes tertulis, uji praktik, atau portofolio kerja.
Sementara itu, competency digunakan untuk menilai kesesuaian perilaku kandidat dengan budaya perusahaan, biasanya melalui wawancara berbasis perilaku (behavioral interview).
2. Penilaian Kinerja Karyawan
Competence membantu menilai sejauh mana karyawan mampu menyelesaikan tugas teknis sesuai standar yang ditetapkan.
Competency membantu menilai bagaimana karyawan berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, maupun klien selama proses kerja berlangsung.
Baca Juga: Behavioral Competency: Manfaat, Jenis, dan Cara Melaksanakan
3. Perencanaan Pengembangan Karier
Perusahaan dapat menggunakan competence untuk menentukan pelatihan teknis yang dibutuhkan karyawan agar naik jabatan.
Sementara competency digunakan untuk menentukan program pengembangan soft skill, seperti pelatihan kepemimpinan atau manajemen konflik.
4. Penyusunan Standar Kompetensi Jabatan
Banyak perusahaan menyusun competency framework atau competency model yang menggabungkan competence teknis dan competency perilaku untuk setiap jabatan.
Cara ini membantu untuk menghasilkan gambaran menyeluruh tentang profil ideal seorang karyawan.
5. Succession Planning
Dalam perencanaan suksesi kepemimpinan, perusahaan perlu memastikan calon pemimpin memiliki competence manajerial yang memadai sekaligus competency kepemimpinan yang kuat.
Misalnya kemampuan mengambil keputusan dan membangun tim yang solid.
Baca Juga: Competency Matrix System: Pengertian, Manfaat, Komponen, dan Contohnya
Bagaimana Cara Meningkatkan Competence dan Competency di Tempat Kerja?

Tentunya kompeten dan kompetensi ini perlu ditingkatkan untuk memudahkan pekerjaan.
Berikut 5 cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kompeten dan kompetensi di tempat kerja:
1. Mengikuti Pelatihan dan Sertifikasi
Pelatihan teknis dan sertifikasi profesi merupakan cara paling efektif untuk meningkatkan competence.
Ini karena pelatihan memberikan pengetahuan dan keterampilan baru yang relevan dengan bidang pekerjaan.
2. Belajar Mandiri (Self-Learning)
Karyawan juga bisa meningkatkan kompeten dan kompetensi mereka dengan belajar secara mandiri.
Di sini karyawan dapat memanfaatkan sumber belajar seperti kursus daring, buku, jurnal, maupun video tutorial dapat membantu karyawan memperdalam pengetahuan teknis secara mandiri sesuai kebutuhan pekerjaannya.
3. Praktik Langsung dan Rotasi Kerja
Pengalaman praktik langsung melalui job rotation atau penugasan proyek tertentu dapat mempercepat penguasaan keterampilan teknis.
Ini karena karyawan langsung menghadapi tantangan nyata di lapangan.
Baca Juga: Uji Kompetensi: Arti, Prinsip, Jenis, Hingga Langkah-Langkahnya
4. Mentoring dari Ahli di Bidangnya
Perusahaan juga bisa memberikan dukungan melalui pemberian mentoring dari ahli di bidangnya.
Belajar langsung dari mentor atau senior yang sudah berpengalaman dapat mempercepat proses transfer pengetahuan teknis yang sulit dipelajari hanya melalui teori.
5. Evaluasi dan Uji Kompetensi Berkala
Melakukan evaluasi kompetensi secara berkala membantu karyawan maupun perusahaan mengetahui sejauh mana perkembangan kemampuan teknis yang dimiliki, sekaligus mengidentifikasi area yang masih perlu ditingkatkan.
6. Refleksi Diri (Self-Reflection)
Melakukan refleksi terhadap pengalaman kerja sehari-hari membantu individu memahami pola perilaku yang perlu diperbaiki.
Misalnya cara merespons tekanan kerja atau menghadapi konflik dengan rekan kerja.
Baca Juga: 5 Manfaat Menerapkan Rekrutmen Berbasis Kompetensi
7. Feedback 360 Derajat
Meningkatkan kompeten dan kompetensi juga dapat dilakukan dengan pemberian feedback 360 derajat.
Hal ini karena dengan menerima umpan balik dari atasan, rekan kerja, maupun bawahan dapat memberikan gambaran objektif mengenai perilaku kerja seseorang.
Dari sini akhirnya karyawan dapat memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih baik lagi.
8. Pelatihan Soft Skill
Selain memberikan mentoring sesuai bidang ahlinya, meningkatkan kompeten dan kompetensi juga dapat dilakukan melalui pelatihan soft skill.
Pelatihan soft skill yang dapat diikuti di antaranya komunikasi efektif, manajemen konflik, kepemimpinan, dan manajemen waktu dapat membantu memperkuat competency yang dibutuhkan di tempat kerja.
Baca Juga: 8 Langkah Melakukan Pengembangan Kompetensi secara Efektif
9. Membangun Kebiasaan Positif Secara Konsisten
Competency terbentuk melalui pengulangan perilaku secara konsisten.
Oleh karena itu, penting untuk secara sadar membiasakan diri menerapkan perilaku kerja yang positif, seperti disiplin, proaktif, dan terbuka terhadap perubahan, hingga menjadi kebiasaan yang melekat.
10. Belajar dari Role Model
Cara yang terakhir adalah belajar dari role model secara langsung.
Mengamati dan mempelajari perilaku kerja dari pemimpin atau rekan kerja yang dianggap memiliki competency baik dapat menjadi acuan dalam mengembangkan perilaku kerja diri sendiri.
Baca Juga: 15 Jenis Kompetensi Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki Manajer
Kesimpulan
Itulah penjelasan lengkap mengenai perbedaan competence dengan competency yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa perbedaan competence dengan competency merujuk pada kemampuan yang dimiliki seseorang dan perilaku, sikap, dan karakteristik yang mendasari bagaimana seseorang menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam bekerja.
Tentunya keduanya menjadi bagian penting dalam dunia kerja, termasuk dalam rekrutmen karyawan.
HR wajib memahami perbedaan kompeten dan kompetensi yang dimiliki kandidat agar bisa memberikan penilaian yang tepat.
Untuk mendukung peran HR, gunakan sistem HRIS dari GajiHub untuk memudahkan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
GajiHub merupakan sistem HRIS yang dilengkapi berbagai fitur untuk kemudahan pengelolaan karyawan.
Daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- Contoh Jadwal Kerja 3 Shift dan Tips Membuatnya - 14 July 2026
- 5 Perbedaan Competence dengan Competency dan Manfaatnya - 14 July 2026
- Apa Itu Overwhelmed: Ini Tanda dan Cara Mengatasi - 13 July 2026