Dalam dunia kerja, mengenal diri sendiri atau self awareness menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Memang, ketika mendengar istilah self awareness ini terdengar begitu sederhana.
Namun jika sudah berkaitan dengan leadership atau mengelola orang lain, ternyata proses self awareness ini bukan lagi hal yang sederhana.
Dibutuhkan keberanian untuk lebih mengenal diri sendiri dan ini jadi bagian penting yang harus dimiliki oleh seorang leader.
Lalu bagaimana cara bagi leader untuk mengenali diri sendiri sehingga bisa melakukan people management dengan baik?
Untuk menjawab pertanyaan ini, GajiHub telah menyelenggarakan GajiHubTalk yang bertajuk Leader & People Management dari Sudut Self Awareness dengan pembicara Kak Elissa Febriani Purnamasari, S.Psi, M.M., seorang Self Discovery Coach & Journaling Facilitator dan Lucky Resta, Senior Consultant dari GajiHub.
Untuk penjelasan lengkapnya mengenai webinar ini, Anda bisa menyimaknya di bawah ini:
Pentingnya Mengenali Diri Sendiri Sebelum Mengenal Orang Lain

Sebagai leader, pernahkah Anda bertanya mengapa tim saya seperti ini?
Ini biasanya terjadi ketika tim sedang menghadapi masalah.
Namun tahukah Anda bahwa sebelum Anda bertanya “Kenapa tim saya seperti ini?” mungkin Anda perlu bertanya “Apa yang terjadi dalam diri saya ketika menghadapi tim saya?”
Kak Elissa menjelaskan bahwa terkadang masalah yang ada di tempat kerja bukan hanya tentang apa yang orang lain lakukan, tetapi juga tentang bagaimana kita berkomunikasi, mengambil keputusan, dan merespons situasi tanpa kita sadari.
Proses ini dikenal dengan self awareness, yakni proses dalam memahami kondisi internal, preferensi, sumber daya, dan intuisi diri sendiri.
Proses self awareness ini dilakukan dengan mengajukan 4 pertanyaan, yakni:
- Apa yang sedang saya rasakan: apakah kecewa, marah, cemas, takut, atau frustasi?
- Apa yang sedang saya pikirkan: dia tidak memikirkan saya, saya harus segera menyelesaikan ini, hingga ini tidak adil.
- Bagaimana saya merespons: apakah diam, menegur, menghindar, mengontrol, atau bertanya?
- Apa yang membuat saya merespons seperti itu: apakah dari nilai saya, ekspektasi saya, pengalaman masa lalu, ketakutan, atau karena kebiasaan?

Baca Juga: Rekap Webinar Mental Health: Balance it Like a Pro
Mengapa Leader Perlu Self Awareness?
Kak Elissa juga menjelaskan mengapa leader perlu memiliki self awareness ini.
Bagi leader, cara memimpin tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang kita sadari, namun juga oleh hal-hal yang bekerja di balik respons kita.
1. Blind Spot
Blind spot berhubungan dengan sesuatu yang tidak kita sadari.
Misalnya dari cara berkomunikasi atau berperilaku seperti suara terlalu keras yang terkesan biasa saja namun bisa bermakna yang berbeda di mata orang lain.
2. Bias
Biasa merupakan penilaian yang terbentuk dari pengalaman, asumai, atau preferensi kira.
Misalnya, memiliki pengalaman buruk dari karyawan yang sering terlambat.
Dari pengalaman buruk tersebut membekas dan membuat kesal.
Nah, ketika kita bertemu dengan orang lain dengan masalah yang sama, kita terlalu cepat membuat kesimpulan.
Padahal bisa saja situasinya tidaklah sama.
3. Pattern
Pattern merupakan pola respons yang terus diulang tanpa disadari.
Tanpa disadari, kita bisa memiliki cara-cara otomatis dalam merespons tekanan, konflik, dan kesalahan.
Baca Juga: GajiHubTalk: Strategi Membangun Tim Social Media Paling Efektif
Pentingnya untuk Kenali “Trigger” Saya

Untuk meningkatkan self awareness sebagai leader, penting bagi Anda untuk mengenai trigger.
Kak Elissa menjelaskan ada beberapa trigger yang sering muncul di kalangan leader, yakni:
- Pekerjaan tidak selesai sesuai deadline
- Bawahan membantah atau mempertanyakan keputusan
- Anggota tim bekerja terlalu lambat
- Orang lain tidak mengikuti cara kerja kita
- Mendapatkan kritik
- Merasa tidak dihargai
- Melihat kesalahan yang sama berulang kali
Kenali hal-hal yang bisa menjadi trigger Anda, kemudian ajukan pertanyaan: mengapa hal tersebut begitu mengganggu saya?
Karena sering kali, yang memicu respons kira bukan hanya situasinya namun makna yang kita berikan terhadap situasi tersebut.
Anda juga bisa menggunakan T.R.I.G.G.E.R Journal sebagai salah satu alat observasi diri leader dan membentuk pola respons terhadap suatu situasi.
- T-Trigger: Apa yang terjadi? Contohnya staff melakukan kesalahan yang sama.
- R-Respons: Apa respons spontan saya? Contohnya saya langsung menegur.
- I-Intrepretation: Apa cerita yang muncul di kepala saya? Contohnya “Dia tidak serius bekerja”.
- G-Gut Feeing: Apa yang sebenarnya saya rasakan? Contohnya kesal dan kecewa.
- G-Gap: Apa yang belum saya ketahui dari situasi ini? Contohnya Saya belum tahu kenapa kesalahan ini terjadi.
- E-Effect: Apa dampak respons saya terhadap orang lain? Contoh Dia menjadi defensif dan komunikasi semakin sulir.
- R-Reframe: Jika saya merespons dengan lebih sadar, apa yang bisa saya lakukan berbeda? Contohnya “Saya perlu memahami akar masalah sebelum memberikan judgement”.
Baca Juga: GajiHubTalk: Grow People, Grow Business Strategi HR untuk Scale up Bisnis
Dari Self-Aware Hingga People-Aware

Penting untuk dipahami bahwa self aware tidak sama dengan self centered.
Semakin kita memahami diri sendiri, maka semakin kita sadar bahwa perspektif kita bukan satu-satunya perspektif.
Karena di sini kita mulai sadar bahwa:
- Saya punya pengalaman sendiri.
- Saya punya nilai dan keyakinan sendiri.
- Saya punya trigger sendiri.
- Cara saya melihat situasi bisa dipengaruhi oleh semuanya.
Dengan self aware yang baik, sebagai leader Anda bisa mengubah self-aware menjadi people-aware.
- Self aware berkaitan dengan apa yang terjadi dalam diri saya?
- Self managed berhubungan dengan bagaimana saya memilih respons?
- People aware berhubungan dengan apa yang sedang terjadi pada orang lain?
- Better leadership berkaitan dengan respons apa yang paling dibutuhkan oleh situasi dan orang tersebut?
Dengan cara ini ada dampak-dampak yang bisa didapatkan yakni mampu membentuk psychological safety, membangun atau mengurangi Trust, memengaruhi cara kita memberikan feedback, hingga memengaruhi keputusan yang kita ambil.
Baca Juga: GajihubTalk: Dari Potensi Ke Performa Kenapa Banyak Karyawan ‘Stuck’
Dari Data HR yang Berantakan Menjadi Insight yang Siap Digunakan

Setelah memahami pentingnya self awareness bagi leader, di sesi kedua dijelaskan mengenai cara memahami people bukan hanya dari feeling namun juga dari data.
Di sesi kedua ini Kak Lucky menjelaskan mengenai sistem yang digunakan untuk mengubah data HR yang berantakan menjadi insight yang siap digunakan.
Ketika membahas pekerjaan HR, salah satu pertanyaan yang wajib ditanyakan adalah apakah data HR yang kita miliki apakah sudah benar-benar siap digunakan?
Sebagai HR, mungkin Anda sudah menyimpan data dalam jumlah banyak tapi apakah data yang sudah ada sudah benar-benar siap dipakai?
Permasalahan ini sering muncul ketika data karyawan ada di banyak tempat, seperti di Excel, WhatsApp, dokumen, dan aplikasi-aplikasi yang berbeda.
Belum lagi datanya ada, namun belum tentu menjadi informasi.
Ini membuat HR akhirnya lebih banyak mengumpulkan data dibandingkan menganalisis data.
Dampaknya ketika data berantakan, maka waktu HR ikut terbuang, karena:
- Banyak pekerjaan manual
- Risiko human error meningkat
- Data sulit dicari
- Reporting membutuhkan waktu
- Sulit mendapatkan insight
- Pengambilan keputusan menjadi lambat
Baca Juga: GajihubTalk: Strategi Employer Branding dari Culture ke Brand yang Berdampak
Solusi GajiHub
Di sini GajiHub hadir sebagai solusi dalam pengelolaan data HR.
HR tidak hanya butuh data, namun juga butuh data yang telah siap untuk digunakan.
Melalui GajiHub, HR dapat terbantu untuk membuat data yang lebih terstruktur, yakni:
- Data karyawan terpusat
- Absensi & kehadiran
- Cuti & izin
- Payroll
- BPJS & PPh 21
- Administrasi HR
- Reporting
Dengan data yang siap dianalisis, maka pertanyaan bisa baik level.
Berikut perbedaan sebelum dan sesudah menggunakan sistem HRIS berdasarkan studi kasus:
| Sebelum | Sesudah |
| Data karyawan tersebar | Data lebih terpusat |
| Payroll menggunakan banyak file | Proses payroll lebih terstruktur |
| Rekap absensi manual | Absensi terdokumentasi |
| Reporting membutuhkan waktu | Reporting lebih mudah |
| Risiko kesalahan lebih tinggi | HR lebih fokus pada pekerjaan strategis |
Baca Juga: GajiHubTalk: Transformasi HR di Era Bisnis Modern
Kesimpulan
Dari webinar GajiHubTalk di atas dapat diketahui bahwa self awareness menjadi bagian penting yang harus dimiliki oleh seorang leader.
Dengan adanya self awareness ini, leader mampu mengenali diri dan mengelola diri dengan baik sehingga lebih mudah untuk mengelola orang lain.
Untuk mendukung leader dalam mengelola orang lain yakni dalam dunia kerja adalah karyawan, penting untuk melengkapinya dengan pengelolaan karyawan yang baik.
Gunakan software absensi dari GajiHub untuk memudahkan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
GajiHub merupakan software absensi yang dilengkapi berbagai fitur untuk kemudahan pengelolaan karyawan.
Daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- GajiHubTalk: Leader & People Management dari Sudut Self Awareness - 2 September 2026
- UMK Malang Tahun 2026 dan Dasar Kenaikannya - 1 September 2026
- UMK Cirebon Tahun 2026 dan 10 Tahun Terakhir - 1 September 2026