Dalam dunia, glass ceiling menjadi istilah yang sering dikaitkan dengan pekerja atau karyawan perempuan.
Istilah ini menggambarkan hambatan yang dihadapi oleh perempuan dalam mengembangkan kariernya.
Meski istilah ini masih asing di tengah masyarakat, namun bagi perusahaan yang ingin menciptakan kesetaraan gender di perusahaan perlu memperhatikan istilah ini.
Hal ini karena glass ceiling membuat perempuan dan kaum minoritas menjadi sulit untuk mendapatkan posisi tertinggi di perusahaan.
Pada artikel ini GajiHub akan menjelaskan secara lengkap mengenai glass ceiling, mulai dari fenomenanya, bagaimana dapat terjadi, hingga cara mengatasinya.
Untuk penjelasan lengkapnya Anda dapat membacanya di bawah ini:
Mengenal Fenomena Glass Ceiling di Dunia Kerja

Dalam jurnal yang berjudul Glass Ceiling pada Perempuan dalam Menempati Posisi Strategis Struktural di Birokrasi Kementrian Republik Indonesia dijelaskan glass ceiling merupakan konsep yang menjelaskan tentang perempuan yang terhambat untuk meningkatkan karier jabatannya ke jenjang yang lebih tinggi di suatu institusi.
Dalam jurnal tersebut istilah ini digambarkan sebagai perempuan boleh menaiki tangga karier sembari menatap ke atas namun ia dihambat oleh kaca sehingga ia hanya mampu melihat dinding kaca sambil melihat laki-laki menapaki tangga ke puncak karier.
Salah satu yang menyebabkan fenomena ini terjadi adalah adanya budaya patriarki yang kuat di dalam tubuh birokrasi sehingga pemilihan jabatan semakin bias gender.
Dalam lingkungan PNS atau Pegawai Negeri Sipil tanpa melihat golongan dan jabatan, persentase PNS perempuan di Indonesia sudah cukup baik, yakni 39,70% dan jumlah PNS laki-laki sebesar 60,3%.
Namun, dari jumlah PNS perempuan ini, banyak yang berada di jabatan eselon III dan IV sedangkan untuk eselon I dan II masih sangat minim.
Selain di Indonesia, fenomena ini juga masih banyak terjadi di luar negeri, khususnya Amerika Serikat.
Masih dari jurnal yang sama, dari penelitian yang dilakukan oleh Reid (2014) berkaitan dengan glass ceiling, fenomena ini masih sering dirasakan oleh perempuan di birokrasi Amerika Serikat.
Selain itu, dari penelitian yang dilakukan oleh Lalu dan Saulin (2014), menjelaskan bahwa glass ceiling pada CEO di Amerika Serikat di mana ada hambatan untuk kemajuan perempuan dalam memimpin perusahaan.
Dari penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena glass ceiling masih sering terjadi dan membuat perempuan kesulitan untuk mengembangkan karier mereka.

Baca Juga: Self Esteem: Ciri, Faktor, dan Cara Membangunnya
Bagaimana Glass Ceiling Dapat Terjadi?
Setelah memahami pengertian dari glass ceiling, lalu bagaimana fenomena ini dapat terjadi di dunia kerja?
Dilansir dari Kompas.com, dari jurnal yang berjudul Glass Ceiling: Sebuah Studi Literatur (2017) karya Muhamad Ihwanul Muslim dan Mirwan Surya Perdhana dijelaskan setidaknya ada 4 yang menyebabkan glass ceiling dapat terjadi, yakni:
1. Faktor Manusia
Dari faktor manusia, perempuan yang tidak mampu mengaktualisasikan diri di perusahaan menjadi penyebab terjadinya fenomena ini.
Di sini perempuan dipandang sebagai sosok yang tidak tegas, labil, dan mudah stres, sehingga banyak yang kurang percaya dengan perempuan untuk memegang jabatan penting di perusahaan.
2. Faktor Stereotip Gender
Penyebab kedua adalah karena adanya faktor stereotip gender.
Stereotip mengenai perempuan di mana perempuan dipandang sebagai pengatur rumah tangga dan mendidik anak.
Akibat dari hal ini, perempuan dianggap lebih baik hanya bekerja di rumah, dibandingkan untuk bekerja di perusahaan.
Baca Juga: Karyawan Neurodivergent: Tantangan dan Cara Mengelolanya
3. Faktor Preferensi
Dari faktor preferensi ditandai adanya konflik tanggung jawab perempuan untuk mengurus anak dan bekerja.
Ini membuat pekerjaan perempuan di tempat kerja menjadi kurang maksimal karena fokus menjadi terpisah.
4. Faktor Interaksi Sosial
Terakhir adalah adanya faktor interaksi sosial.
Perempuan kadang merasa kurang percaya diri ketika harus memimpin tim di mana mayoritas anggotanya laki-laki.
Ini membuat perempuan sulit untuk mengaktualisasikan diri dan bekerja dengan optima, hingga ini jadi penghambat perempuan untuk dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Baca Juga: Reverse Ageism: Dampak dan Cara Mencegahnya
Siapa yang Paling Sering Mengalami Glass Ceiling?

Ada pihak-pihak yang sering mengalami glass ceiling ini yakni:
1. Perempuan di Dunia Kerja
Pihak pertama yang sering mengalami fenomena ini adalah perempuan di dunia kerja.
Perempuan di dunia kerja banyak mengalami diskriminasi vertikal, stereotip gender, dan masalah keseimbangan hidup sehingga membuat mereka sulit untuk mengembangkan karier.
2. Kelompok Minoritas
Kelompok minoritas juga sering menjadi bagian dari fenomena ini.
Misalnya pada kelompok ras atau etnis tertentu yang kurang terwakili sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan promosi jabatan karena bias sistematik di tempat kerja.
Baca Juga: Chaotic Working: Dampak dan Cara Mengatasinya
Apa Dampak dari Glass Ceiling?

Setelah mengetahui siapa saja pihak yang sering mengalaminya, lalu apa dampak dari glass ceiling ini?
Selain bisa menghambat perempuan dalam berkarier, fenomena ini juga dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan.
Berikut dampak yang dapat dialami oleh perempuan dan minoritas karena adanya fenomena ini:
1. Merasa Stres
Dampak yang pertama adalah merasa stres, dimana dari studi yang dilakukan pada tahun 2019 dikatakan bahwa fenomena ini memberikan dampak secara langsung pada stres karyawan perempuan.
Dari stres yang dirasakan ini dapat menurunkan produktivitas bagi karyawan perempuan tersebut.
Jika ini dibiarkan untuk jangka panjang, maka karyawan dapat merasa sedih, susah tidur, sakit kepala, dan cepat marah.
2. Merasa Ragu pada Diri Sendiri
Dampak kedua adalah merasa ragu pada diri sendiri.
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu dampak yang dirasakan dari fenomena ini adalah sering merasa ragu terhadap diri sendiri.
Ini terjadi karena seseorang tidak diberikan untuk menempati jabatan di posisi tertinggi atau mendapatkan promosi jabatan.
Ini menimbulkan pertanyaan di dalam diri sendiri, misalnya berkaitan dengan kinerja apakah kinerja selama ini baik atau kurang.
3. Mengalami Gangguan Mood
Dampak yang terakhir adalah mengalami gangguan mood.
Perempuan lebih sering mengalami gangguan kecemasan dan depresi dibandingkan dengan laki-laki.
Akibat dari fenomena ini, perempuan dan minoritas sering merasa gelisah, sulit untuk berkonsentrasi, hingga mengarah ke depresi dengan gejala berikut ini:
- Merasa putus asa
- Perubahan pola makan
- Kurang berenergi
- Sering merasa bersalah
- Cepat marah
Baca Juga: Ramai Istilah Quiet Covering di Tempat Kerja, Apa Itu?
Bagaimana Cara Mengatasi Glass Ceiling?

Agar glass ceiling tidak menjadi hambatan bagi perempuan dan minoritas dalam berkarier, ada cara-cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mengatasinya, yakni:
1. Tunjukkan Hasil Terbaik
Cara pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan kinerja terbaik.
Selain bisa menunjukkan bahkan perempuan bisa ke orang lain, menunjukkan hasil yang terbaik juga bisa menjadi pencapaian pribadi.
Anda bisa lebih percaya diri karena kemampuan yang Anda miliki.
Lalu bagaimana cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan hasil terbaik?
Jika Anda seorang desainer grafis, Anda meningkatkan kemampuan Anda melalui pelatihan atau giat berlatih sendiri, lalu bagian portofolio Anda di media sosial.
Jika Anda blogger, Anda bisa menulis di blog Anda dan bagikan tulisan Anda.
2. Bangun Relasi
Kedua adalah dengan membangun relasi Anda.
Memperluas dan membangun relasi bisa memperbesar peluang Anda untuk mencoba karier baru dan membangun bisnis Anda sendiri.
Jika Anda masih bingung cara membangun relasi ini, Anda bisa memulainya dari lingkungan terdekat Anda.
Anda juga bisa memanfaatkan media sosial untuk memperluas jaringan ini.
3. Berusaha yang Terbaik
Ketiga adalah dengan berusaha yang terbaik.
Apa pun yang Anda kerjakan saat ini, lakukan yang terbaik.
Jangan hanya fokus untuk mendapatkan perhatian dari atasan, namun lebih ke pengembangan diri Anda.
Jika Anda fokus pada pengembangan diri Anda, selain Anda bisa terus berkembang, Anda juga berkesempatan untuk mendapatkan promosi jabatan.
Baca Juga: Sensitivity Training: Manfaat, Jenis, dan Cara Melaksanakannya
4. Buat Kebijakan Anti Diskriminasi
Selain dari sisi karyawan, dari sisi perusahaan juga bisa membuat kebijakan untuk mengatasi fenomena ini, yakni dengan membuat kebijakan anti diskriminasi.
Jika belum ada, karyawan bisa mengusulkan kepada pihak HRD atau atasan yang ada di tempat kerja.
Tujuannya adalah untuk mencegah perilaku yang diskriminatif, termasuk glass ceiling ini.
5. Lakukan Penyuluhan Bias dan Stereotip Gender
Perusahaan juga bisa melakukan penyuluhan bias dan stereotip gender di kantor.
Pada acara ini perusahaan bisa mengundang pakar atau aktivis kesetaraan gender dan membicarakan stereotip serta diskriminasi yang terjadi di tempat kerja.
Dengan membuat penyuluhan ini, maka bisa menjadi pengetahuan baru untuk tidak membeda-bedakan rekan kerja atau atasan berdasarkan gender.
6. Buat Target Karier
Terakhir adalah dengan membuat target karier.
Anda bisa menetapkan tujuan karier yang jelas dan kembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkannya.
Anda bisa fokus pada tujuan SMART yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu.
Dengan adanya target ini, Anda bisa lebih siap untuk menghadapi potensi karier yang ada di masa depan.
Namun pastikan bahwa sekeras apapun usaha Anda, kegagalan tetap bisa terjadi dalam perjalanan karier Anda.
Baca Juga: 10 Jenis Pelanggaran Karyawan dan Cara Menyikapinya
Kesimpulan
Itulah penjelasan lengkap mengenai glass ceiling yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa glass ceiling menjadi fenomena yang menghambat karier perempuan di mana perempuan atau kelompok minoritas tidak bisa menduduki posisi tertinggi di tempat kerja.
Sebagai perusahaan tentunya Anda harus memiliki strategi untuk mencegah terjadinya fenomena ini dan diskriminasi di tempat kerja lainnya.
Salah satu dukungan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pengelolaan karyawan sebaik mungkin.
Gunakan software absensi dari GajiHub untuk memudahkan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
Dengan GajiHub pengelolaan karyawan di perusahaan Anda bisa menjadi lebih mudah, mulai dari pengelolaan kehadiran karyawan, penggajian, HRIS, hingga penjadwalan karyawan juga bisa dilakukan secara mudah dan otomatis.
Jadi tunggu apa lagi, segera daftar GajiHub di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- Call Center BPJS Ketenagakerjaan dan Alamatnya - 8 July 2026
- Berapa Hari Kerja dalam Sebulan di Indonesia dan Luar Negeri? - 8 July 2026
- Fenomena Glass Ceiling di Dunia Kerja dan Cara Mengatasinya - 8 July 2026