Budak Korporat: Ciri, Dampak, dan Penyebabnya

budak korporat

Pernahkah Anda mendengar istilah budak korporat?

Jika Anda sering menyimak pembahasan di media sosial, pasti Anda sudah tidak asing dengan istilah budak korporat ini.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pekerja yang mendedikasikan diri mereka untuk perusahaan tempat bekerja, bahkan hingga ada yang mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan.

Agar Anda tidak terjebak menjadi seorang budak korporat, penting bagi Anda untuk memahami apa saja ciri-ciri dari budak korporat ini.

Pada artikel ini GajiHub akan menjelaskan secara lengkap mengenai budak korporat, mulai dari pengertiannya, ciri-ciri, penyebab, hingga cara keluar dari budak korporat.

Untuk penjelasan lengkapnya Anda dapat menyimak di bawah ini:

Apa yang Dimaksud dengan Budak Korporat?

budak korporat

Budak korporat terdiri dari dua kata, yakni budak dan korporat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, budak memiliki arti sebagai seseorang yang ada di bawah kekuasaan orang lain.

Budak ini dapat diartikan sebagai orang yang bekerja dengan keras dan tidak mendapatkan kebebasan atau hak secara layak.

Kata ini memiliki konotasi yang negatif, di mana menandakan bahwa seseorang memiliki ketergantungan yang berat hingga kehilangan kebebasan pribadi.

Sedangkan kata korporat kata asalnya korporasi, di mana dalam KBBi memiliki arti sebagai badan hukum dengan banyak anggota dan menjalankan aktivitas ekonomi ataupun bisnis.

Korporat ini merujuk pada dunia perusahaan atau organisasi dengan tujuan komersial dan biasanya dengan skala besar dan dilengkapi struktur organisasi yang kompleks.

Ketika dua kata ini digabung dengan budak korporat, maka memiliki arti sebagai seseorang atau individu yang terjebak di dalam rutinitas pekerjaan di perusahaan besar hingga mengorbankan waktu, energi dan kehidupan pribadi demi mencapai target atau tujuan dari perusahaan.

Frasa ini diberikan untuk menyebut seseorang yang terlalu fokus pada pekerjaan dan hampir tidak memiliki waktu dengan kehidupan pribadi.

Jadi, keadaan ini membuat orang tersebut tersebut terikat dengan pekerjaan, misalnya harus bisa lembur, selalu bersedia untuk pekerjaan kapan saja dan di mana saja, hingga terus mengejar target yang ditentukan oleh perusahaan.

Hal ini membuat mereka sering mengorbankan waktu untuk keluarga, teman, dan pastinya diri sendiri demi pekerjaan.

Orang-orang dewasa ini, khususnya di media sosial sering menggunakan istilah ini sebagai sindiran yang menggambarkan seseorang yang bekerja keras hingga terjebak di rutinitas pekerjaan.

Biasanya mereka ini terpaksa harus mengikuti ritme kerja yang menguras tenaga, demi menjaga karier dan juga memenuhi ekspektasi dari atasan mereka.

gajihub banner

Baca Juga: Toxic Productivity: Pengertian, Ciri, dan Cara Mengatasinya

Apa Saja Ciri-Ciri Budak Korporat?

Dari penjelasan di atas, apakah apakah Anda termasuk ke golongan ini?

Untuk lebih mengenali diri Anda apakah termasuk salah satu budak ‘perusahaan’ berikut ciri-ciri yang penting untuk dipahami:

1. Takut untuk Mengajukan Cuti

Ciri yang pertama adalah takut untuk mengajukan cuti.

Menjadi seorang budak korporasi membuat seseorang bekerja tanpa henti, bahkan untuk cuti satu hari pun ia merasa takut.

Padahal cuti ini merupakan hak karyawan yang bisa diambil agar karyawan dapat beristirahat dari pekerjaan.

Aturan mengenai hak cuti ini juga diatur secara tegas dalam UU Ketenagakerjaan Pasal 93 ayat (2) huruf A.

Ini termasuk hak cuti haid yakni hari pertama dan kedua ketika menstruasi untuk karyawan perempuan.

2. Kerja Lembur Tanpa Henti

Ciri yang kedua adalah Anda kerja lembur tiada henti.

Memang ketika Anda lembur maka Anda mendapatkan upah lembur dengan perhitungan 1,5 hingga 2 kali lebih banyak dari gaji hari biasa.

Namun lembur membuat Anda kurang waktu untuk beristirahat dan jika terus dipaksakan lembur tanpa henti dapat bisa berdampak pada kesehatan, baik itu kesehatan fisik hingga kesehatan mental Anda.

3. Tidak Punya Batasan Kehidupan Kerja dan Pribadi

Orang yang menjadi budak korporasi juga tidak memiliki batasan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi.

Padahal batasan ini penting agar tidak stres dan bisa memiliki keseimbangan hidup yang baik.

Memang pada awalnya Anda bisa merasa baik-baik saja, namun lambat laun tubuh dan pikiran Anda merasa jenuh dan jika dibiarkan dapat berdampak pada kesehatan Anda, salah satunya merasa burnout.

Baca Juga: Toxic Leadership: Tanda dan Cara Menyikapinya

4. Cemas Jika Tidak Kerja

Di level yang lebih parah, Anda bisa merasa cemas jika tidak bekerja.

Misalnya ketika sedang tidak bekerja karena cuti, Anda merasa cemas karena takut pekerjaan akan tertunda hingga membuat atasan merasa kecewa.

Ini menandakan bahwa Anda ketergantungan kepada pekerjaan Anda.

5. Menjadi Pujian sebagai Kebutuhan

Menjadi budak korporasi membuat mereka membutuhkan pujian, baik dari rekan kerja hingga dari atasan.

Tanpa adanya pujian ini, mereka merasa tidak dihargai dan dedikasinya selama ini dianggap sia-sia.

6. Terjebak Rutinitas

Ciri selanjutnya adalah adanya perasaan terjebak dengan rutinitas.

Bangun tidur, siap-siap ke kantor, perjalanan ke kantor, sampai kantor dan mulai kerja, pulang kerja, tidur, begitu terus rutinitasnya.

Bahkan ini terjadi di weekday yang harusnya bisa dipakai untuk beristirahat.

Padahal tubuh sejatinya juga butuh jeda untuk keluar dari rutinitas dan menjalani aktivitas baru.

Namun tuntutan sebagai budak korporasi membuat Anda terjebak di rutinitas yang monoton.

Baca Juga: Toxic Workplace: Pengertian, Tanda, dan Cara Menghadapinya

7. Gampang Sakit

Salah satu ciri yang tidak boleh diabaikan dan menandakan Anda harus segera berbenah adalah gampang sakit.

Tubuh manusia memiliki batas dalam bekerja dan beraktivitas.

Nah, ketika tubuh terus dipaksa untuk bekerja tanpa henti, maka tubuh bisa ada di fase lelah dan sakit.

Jika ini terus terjadi ditambah dengan kurang nutrisi dan kurang tidur, maka bisa membuat imunitas tubuh lemah dan Anda gampang jatuh sakit.

8. Gaji Tidak Sesuai

Ciri yang terakhir adalah gaji tidak sesuai.

Secara ideaal, ketika Anda bekerja lebih berat, maka gaji juga akan mengikuti.

Namun di sini gaji Anda tidak sesuai dengan dedekasi yang telah Anda berikan, bahkan bisa lebih rendah dari standar gaji yang ada.

Jika Anda memiliki ciri-ciri ini, maka Anda dapat menyebut diri Anda sebagai buduk korporat.

Baca Juga: Corporate Stockholm Syndrom: Bagimana Cara Menanganinya?

Apa Saja Dampak Menjadi Budak Korporat?

budak korporat

Menjadi seorang budak korporat bisa memberikan dampak sebagai berikut:

1. Kehilangan Work Life Balance

Dampak yang pertama adalah kehilangan work life balance atau keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Ketika Anda terjebak dengan rutinitas pekerjaan, Anda seringkali mengorbankan waktu dengan keluarga, teman, dan juga dengan diri sendiri.

Jika seharusnya Anda menggunakan waktu untuk istirahat atau mengembangkan hobi, waktu Anda justru dihabiskan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan.

Ini membuat adanya ketidakseimbangan dan jika dibiarkan dapat merusak kualitas hidup Anda secara keseluruhan.

2. Kesehatan Mental yang Menurun

Kedua, dapat mengganggu kesehatan mental Anda.

Adanya tekanan untuk mencapai target perusahaan, lembur, hingga selalu ada untuk pekerjaan dapat membuat Anda mengalami stres berlebihan.

Kondisi ini dapat berujung pada burnout atau kelelahan mental yang serius.

Kesehatan mental yang menurun dan tidak ditangani dengan baik bisa berujung pada kecemasan dan depresi.

Baca Juga: Hierarchy Culture di Tempat Kerja: Kelebihan dan Kekurangannya

3. Mengabaikan Kesehatan Fisik

Tidak hanya berpengaruh pada kesehatan mental, namun juga kesehatan fisik Anda.

Rutinitas pekerjaan yang berat membuat Anda sering mengabaikan pola makan Anda, kurang istirahat, dan jarang berolahraga.

Semua ini menjadi modal kombo untuk merusak kesehatan fisik, bahkan jika terus dibiarkan bisa berujung pada hipertensi, diabetes, dan serangan jantung.

4. Kurang Waktu untuk Bersosialisasi

Dampak berikutnya adalah kurangnya waktu untuk bersosialisasi.

Bagaimana bisa bersosialisasi jika kehidupan Anda sudah dihabiskan untuk pekerjaan?

5. Menurunnya Produktivitas

Jangan dikira bahwa gila kerja berdampak baik bagi produktivitas kerja, karena kenyataannya tidak demikian.

Ketika tubuh yang lelah terus dipaksakan untuk bekerja, dibandingkan bisa bekerja dengan fokus yang produktif justru Anda kehilangan kemampuan untuk bekerja dengan efektif.

Jadi, pastikan untuk beristirahat di sela-sela kesibukan bekerja Anda.

Baca Juga: Strategic Initiative: Arti, Manfaat, Tipe, Contoh, dan Cara Mengembangkannya

6. Kurang Puas dan Bahagia

Terjebak di dalam pekerjaan nyatanya bisa membuat seseorang kurang puas dan bahagia.

Ini karena ia bekerja tanpa adanya tujuan, di mana aktivitas sehari-hari hanya dijalani karena harus dijalani.

Ini bisa membuat Anda merasa kosong di ujung hari dan tidak bahagia meski saat itu Anda punya banyak uang.

7. Mengorbankan Diri Sendiri

Terakhir adalah mengorbankan diri sendiri.

Bekerja tanpa henti membuat Anda mengabaikan kebutuhan dan keinginan Anda.

Anda terus bekerja tanpa henti dan jangankan untuk me time, untuk makan dengan santai dan menikmati saja tidak bisa.

Baca Juga: Manajemen Perkantoran: Jenis, Fungsi, Peran, dan Tipsnya

Apa Saja Penyebab Budak Korporat?

budak korporat

Selain memahami apa saja dampak yang dimilikinya, penting juga untuk memahami apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi budak korporat.

Berikut 10 penyebabnya yang membuat seseorang menjadi budak korporat:

1. Mendapatkan Tekanan untuk Terus Berprestasi

Ciri yang pertama adalah mendapatkan tekanan untuk terus berprestasi.

Biasanya ini terjadi bagi seseorang yang dari awal sudah terkenal dengan prestasi yang dimiliki.

Ini akhirnya membuat orang lain berekspektasi tinggi dan untuk menjaga ekspektasi tersebut, maka harus dilakukan dengan gila kerja setiap hari.

2. Adanya Ambisi Karier

Penyebab yang kedua adalah karena adanya ambisi karier, misalnya Anda menargetkan naik jabatan di tahun ketiga.

Untuk mewujudkan hal ini tentunya harus dilakukan dengan bekerja sangat keras dan memuaskan atasan Anda.

Baca Juga: 15 Alasan Resign Terbaik dan Tetap Profesional

3. Kebutuhan Keuangan

Kebutuhan keuangan juga sering kali membuat Anda menjadi budak korporat, terlebih jika Anda adalah generasi sandwich.

Keadaan ini sering kali terjadi bukan atas kemauan dan memaksa Anda untuk terus kuat bertahan di pekerjaan yang menantang.

4. Lingkungan Kerja yang Penuh Persaingan

Dunia kerja yang penuh persaingan juga membuat mau tidak mau harus menjadi budak.

Jika tidak, maka Anda dapat tersingkir dari pekerjaan tersebut.

5. Kurang Tenaga Kerja

Ada perusahaan yang memang membatasi tenaga kerja sehingga karyawan yang ada di sana harus bekerja lebih keras dibandingkan di perusahan lain.

Ini menjadi penyebab mengapa akhirnya ada karyawan yang terjebak sebagai budak korporat.

Baca Juga: Ciri-Ciri dan Cara Mengatasi Karyawan Red Flag

6. Tidak Ada Batasan Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Tidak adanya batasan pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi penyebab yang sering dialami budak korporat.

Misalnya di hari libur, mereka tetap mendapatkan chat dari atasan untuk membahas pekerjaan.

7. Butuh Pengakuan

Bagi orang yang membutuhkan pengakuan atau validasi sering kali mendorong diri mereka untuk bekerja dengan lebih keras.

Baik itu pengakuan dari atasan ataupun keluarga hingga mereka rela mengorbankan kualitas hidup.

Baca Juga: Overconfidence di Dunia Kerja: Dampak dan Cara Mengatasi

8. Atasan yang Toksik

Memiliki atasan toksik juga menjadi penyebab seseorang terjebak di dalam pekerjaan.

Atasan toksik sering kali memberikan pekerjaan di luar jam kerja, pekerjaan lebih dari jobdesk seharusnya sehingga pelru lembur.

9. Lembur Dianggap Dedikasi

Ada perusahaan yang menganggap lembur sebagai bagian dari dedikasi.

Jika Anda ingin dianggap sebagai karyawan yang berprestasi, maka harus lembur.

Ini akhirnya membuat karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut bekerja lembur dan kehilangan keseimbangan hidup.

10. Takut Kehilangan Pekerjaan

Sulitnya mencari pekerjaan baru bisa membuat seseorang memaksa bertahan meski pekerjaan terasa berat.

Mereka menganggap bahwa lelah bekerja masih lebih baik dibandingkan lelah karena mencari pekerjaan.

Baca Juga: Chaotic Working: Dampak dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Cara Keluar dari Budak Korporat?

korporasi

Memang untuk keluar dari jeratan perbudakan korporasi ini bukanlah hal yang mudah, khususnya untuk seseorang yang telah lama terjebak di dalam rutinitas pekerjaan yang menguras energi.

Namun ada langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk keluar dan menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan kehidupan pekerjaan Anda yakni dengan cara berikut ini:

1. Tetapkan Batasan yang Jelas

Pertama adalah dengan menetapkan batasan yang jelas.

Tentukan jam kerja secara spesifik dan pastikan untuk tidak membawa pekerjaan saat pulang ke rumah.

Komunikasikan hal ini dengan atasan atau rekan kerja sehingga Anda memiliki waktu untuk istirahat.

2. Buat Prioritas

Cara berikutnya adalah dengan membuat prioritas, di mana Anda harus paham pekerjaan mana saja yang harus didahulukan.

Jangan sampai Anda terjebak di pekerjaan yang kurang mendesak.

Jangan sungkan untuk mengatakan tidak pada pekerjaan tambahan atau proyek yang tidak relevan dengan tujuan utama Anda.

3. Delegasikan Tugas

Jika Anda merasa kewalahan dengan pekerjaan Anda, delegasikan tugas kepada rekan kerja atau anggota tim Anda.

Dengan mendelegasikan tugas ini, Anda dapat meringankan beban dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berdedikasi.

Baca Juga: Fenomena Job Hugging, Ini Penyebab dan Dampaknya

4. Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Jangan lupa untuk meluangkan waktu ke diri sendiri.

Bekerja memang penting untuk bisa mendapatkan penghasilan namun meluangkan waktu juga penting agar Anda bisa menikmati jerih payah Anda selama ini.

Tidak harus yang mewah, Anda bisa meluangkan waktu meski hanya sekadar membaca buku atau menikmati kopi di waktu santai di rumah.

5. Cari Dukungan

Jangan ragu untuk mencari dukungan dari rekan kerja ataupun mentor untuk mendapatkan perspektif yang beda.

Bicarakan dengan orang yang pernah melewati situasi serupa sehingga Anda bisa mendapatkan wawasan cara mengelola beban kerja dan mendapatkan work life balance.

6. Kelola Stres dengan Baik

Stres menjadi salah satu faktor yang membuat Anda merasa terjebak dengan pekerjaan.

Carilah cara untuk mengeloa stres dengan baik, misalnya melakukan meditasi hingga yoga.

7. Evaluasi Tujuan Anda

Tidak ada salahnya untuk melakukan evaluasi tujuan karier Anda.

Misalnya apakah pekerjaan Anda saat ini masih sesuai dengan tujuan hidup Anda.

Jika memang Anda merasa tidak sesuai, Anda dapat mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan tujuan hidup Anda.

Baca Juga: Contoh Konflik di Tempat Kerja dan Cara Mengelolanya

8. Pertimbangan Work Life Integration

Jika Anda tidak benar-benar bisa memisahkan kehidupan kerja dan pribadi Anda, tidak ada salahnya dengan mengintegrasikannya.

Caranya adalah untuk Anda yang bekerja secara remote dapat mengatur kerja yang paling efektif dan memberikan ruang lain untuk mengeksplor hal lain di hidup ini.

9. Realistis terhadap Diri Sendiri

Ada saatnya seseorang terjebak dengan rutinitas karena pilihan diri sendiri, misalnya karena ambisi.

Oleh karenanya penting bagi Anda untuk tetap realistis dalam menentukan target dan ambisi Anda.

Tetapkan target ini sesuai dengan kemampuan dan jangan gantungkan kebahagiaan pada hal di luar kendali, misalnya pengakuan dari orang lain.

10. Jangan Takut Kehilangan Pekerjaan

Terakhir adalah jangan takut kehilangan pekerjaan.

Memang keluar dari zona nyaman bisa terasa menakutkan namun tanpa keluar Anda tidak akan tahu apa yang ada di luar sana.

Bisa saja dengan kehilangan pekerjaan ini, Anda bisa menemukan pekerjaan yang lebih baik lagi.

Baca Juga: Blue Collar: Arti, Contoh, Skill, dan Bedanya dengan White Collar

Kesimpulan

Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai budak korporat yang dapat menjadi referensi untuk Anda.

Dari penjelasan di atas sudahkah Anda mengetahui apakah Anda termasuk budak korporat atau bukan?

Meski Anda ingin memberikan yang terbaik untuk pekerjaan namun pastikan Anda tetap memperhatikan kesehatan Anda.

Untuk mendukung karyawan dapat mendapatkan keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi, pastikan perusahaan Anda melakukan pengelolaan karyawan secara tepat.

Gunakan software absensi dari GajiHub untuk memudahkan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.

Daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.

Desi Murniati

Tinggalkan Komentar