Cara Mengelola Keluhan dan Permintaan Karyawan yang Efektif bagi Tim HR

cara menangani keluhan pelanggan

Keluhan dan permintaan karyawan yang tidak tertangani dengan baik adalah salah satu penyebab utama turnover diam (silent attrition), di mana karyawan tetap datang ke kantor tapi sudah tidak peduli lagi. 

Banyak perusahaan tidak menyadari hal ini sampai terlambat, terutama karena tidak ada alur yang jelas untuk menyalurkan permintaan karyawan.

Akibatnya, semua masukan mengalir ke satu titik, yaitu tim HR, padahal tidak semuanya menjadi ranah mereka.

Beban kerja yang membengkak ini justru menunda penanganan keluhan yang benar-benar harus ditangani HR, seperti soal gaji, cuti, dan kehadiran.

Artikel ini membahas cara mengelola keluhan dan permintaan karyawan secara efektif, termasuk memahami kapan HR harus menanganinya sendiri dan kapan harus meneruskannya ke departemen lain.

Mengapa Mengelola Keluhan dan Permintaan Karyawan Itu Penting?

cara menangani keluhan pelanggan

Satu keluhan yang diabaikan bisa menggerus kepercayaan seluruh divisi.

Dalam tim yang saling kenal, apalagi di era media sosial internal di mana keluhan bisa menyebar secara diam-diam antar karyawan, dampak keluhan tidak pernah berhenti di satu orang saja. 

Data Work Institute dalam Retention Report – Employee Retention Truths in Today’s Workplace (2025) menunjukkan bahwa masalah terkait manajemen, termasuk penanganan keluhan yang buruk, menyebabkan turnover naik dari 7,4% pada 2022 menjadi 9,6% pada 2024.

Ketika karyawan merasa keluhannya tidak didengar atau proses penanganannya terlalu lambat, mereka mulai mencari lingkungan kerja yang lebih baik karena frustasi terhadap sistem internal yang tidak responsif.

Sedangkan, tim HR di Indonesia umumnya menangani rasio 1 HR untuk 50-100 karyawan. Dengan rasio itu, setiap orang HR harus mengelola payroll, absensi, cuti, BPJS, PPh 21, rekrutmen, dan program pengembangan karyawan sekaligus.

Karena itu, banyak permintaan yang bukan ranah HR justru jatuh ke tim HR karena karyawan tidak tahu harus menghubungi siapa.

Permintaan perbaikan laptop, keluhan soal AC yang tidak dingin, laporan jaringan internet yang putus-putus, semuanya sering kali dikirim ke tim HR karena mereka dianggap “pusat segalanya.” 

Akibatnya, beban kerja HR membengkak untuk tugas-tugas yang seharusnya ditangani departemen lain sehingga mengurangi waktu yang seharusnya dialokasikan untuk pengelolaan data karyawan, payroll, dan pengembangan SDM.

Baca Juga: 12 Contoh OKR Tim Layanan Pelanggan dan Manfaatnya

Jenis-Jenis Keluhan dan Permintaan Karyawan yang Umum Terjadi

Keluhan yang Menjadi Tanggung Jawab Langsung HR

Beberapa jenis keluhan dan permintaan yang memang menjadi domain utama tim HR antara lain:

  • Keluhan terkait gaji dan tunjangan, yaitu keterlambatan pembayaran, perhitungan lembur yang tidak sesuai, atau tunjangan yang belum dicairkan. Ini biasanya bisa ditangani langsung melalui software payroll seperti Gajihub yang terintegrasi dengan sistem absensi dan penggajian.
  • Pengajuan cuti dan izin, termasuk status persetujuan yang belum diproses atau konflik jadwal antar divisi.
  • Masalah kehadiran, yaitu pencatatan absensi yang tidak akurat, keterlambatan yang tidak tercatat, atau sistem fingerprint yang error.
  • Keluhan terkait performa penilaian, termasuk KPI yang dianggap tidak adil atau evaluasi kerja yang tidak transparan.
  • Pengajuan reimbursement dan kasbon yang membutuhkan verifikasi dan persetujuan berjenjang.

Permintaan di Luar Fungsi HR yang Sering Jatuh ke Tim HR

Banyak permintaan yang seharusnya ditangani oleh departemen lain justru jatuh ke tim HR.

Umumnya, ini terjadi karena karyawan tidak tahu alur pengajuannya, sehingga semua dikirim ke HR.

Ada permintaan perbaikan perangkat IT, misalnya laptop yang lemot atau printer yang macet.

Ada keluhan terkait fasilitas kantor, seperti AC yang tidak dingin atau meja yang rusak.

Ada juga permintaan akses sistem atau aplikasi, yaitu izin masuk ke tool tertentu yang dibutuhkan untuk pekerjaan sehari-hari.

Termasuk laporan insiden di lingkungan kerja, kecelakaan kecil, kerusakan inventaris, atau masalah keamanan.

Tanpa sistem yang bisa memisahkan permintaan ini berdasarkan kategori, tim HR akan terus menjadi tumpuan untuk segala sesuatu.

Efisiensi kerja mereka pun akan terus menurun.

Baca Juga: Manajemen Hubungan Pelanggan: Strategi dan Tantangannya

Peran HRIS dan Sistem Tiket dalam Mendukung Efisiensi Operasional Perusahaan

cara menangani keluhan pelanggan

Untuk mengatasi permasalahan di atas, perusahaan membutuhkan dua jenis sistem yang saling melengkapi: HRIS untuk mengelola data karyawan, dan sistem tiket untuk menangani permintaan di luar fungsi HR.

HRIS: Mengelola Data Karyawan, Payroll, Absensi, dan Cuti

Human Resource Information System (HRIS) atau software HR adalah sistem yang mengelola data karyawan, mulai dari penggajian, pencatatan kehadiran, pengajuan cuti, pengelolaan BPJS, hingga analisis data karyawan secara terintegrasi.

Software seperti Gajihub memungkinkan tim HR menyelesaikan tugas-tugas administratif yang berulang secara otomatis, mulai dari menghitung gaji berdasarkan data absensi, memproses PPh 21, hingga mengelola slip gaji digital.

Dengan otomasi ini, tim HR bisa dialihkan ke tugas-tugas strategis seperti pengembangan karyawan dan peningkatan budaya kerja.

Sistem Tiket: Menangani Permintaan dan Keluhan di Luar Fungsi HRIS

Di luar fungsi HR, perusahaan juga membutuhkan sistem yang bisa menangani berbagai permintaan dan keluhan dari karyawan.

Sistem tiket membantu mengelola permintaan IT, keluhan fasilitas, laporan insiden, dan berbagai jenis permintaan lainnya yang bukan merupakan ranah HR.

Sistem tiket yang baik harus memiliki fitur omnichannel, yaitu bisa menerima permintaan dari WhatsApp, email, web form, maupun aplikasi internal, lalu mengubah semua permintaan itu menjadi tiket terstruktur yang bisa dilacak progresnya.

Tanpa fitur ini, permintaan yang masuk melalui berbagai saluran akan sulit dijadikan satu dan sulit dipantau.

Berbeda dengan HRIS, sistem tiket menangani permintaan dan keluhan yang membutuhkan penanganan dari berbagai departemen, seperti IT, fasilitas, dan administrasi.

Ketika kedua sistem ini berjalan berdampingan, perusahaan memiliki ekosistem layanan internal yang komprehensif.

Setiap permintaan karyawan, baik yang masuk ke ranah HR maupun departemen lain, bisa ditangani secara sistematis, transparan, dan tepat waktu.

Baca Juga: 9 Cara Menanggapi Keluhan Karyawan dengan Baik

Cara Mengelola Keluhan dan Permintaan Karyawan secara Efektif

adaptist

1. Kategorikan Permintaan Berdasarkan Departemen atau Bidang yang Menanganinya

Pastikan setiap keluhan dan permintaan masuk ke kategori yang tepat sejak awal.

Permintaan yang berkaitan dengan gaji, cuti, dan data karyawan tetap menjadi tanggung jawab HR.

Sementara itu, permintaan terkait IT, fasilitas, atau administrasi harus diteruskan ke departemen yang berwenang menanganinya.

Dalam praktiknya, kategorisasi ini bisa dilakukan saat karyawan mengajukan permintaan.

Misalnya, sediakan formulir digital dengan dropdown kategori, seperti “Gaji & Tunjangan,” “Cuti & Izin,” “Fasilitas Kantor,” “IT Support,” atau “Lainnya.” Permintaan langsung masuk ke jalur yang benar tanpa perlu diteruskan manual oleh HR.

2. Buat SOP yang Jelas untuk Setiap Jenis Keluhan atau Permintaan

Setiap jenis keluhan atau permintaan sebaiknya memiliki prosedur operasional standar (SOP) yang jelas, mulai dari langkah-langkah penanganan, siapa yang bertanggung jawab, hingga estimasi waktu penyelesaian.

Banyak perusahaan membuat SOP terlalu panjang dan rumit.

Hasilnya, karyawan tidak membaca dan SOP pun menjadi pajangan.

SOP yang efektif cukup pendek, maksimal 1 halaman per jenis permintaan, dengan langkah-langkah bernomor yang bisa diikuti tanpa perlu penjelasan tambahan.

3. Tentukan SLA agar Setiap Permintaan Ditangani Tepat Waktu

Service Level Agreement adalah perjanjian tingkat layanan yang menentukan batas waktu penyelesaian untuk setiap jenis permintaan.

Dengan SLA, perusahaan bisa memastikan bahwa setiap keluhan ditangani dalam waktu yang telah ditentukan.

Contoh SLA yang bisa diterapkan:

  • Keluhan terkait gaji: diselesaikan dalam 1×24 jam kerja
  • Pengajuan cuti: disetujui/ditolak dalam 2×24 jam kerja
  • Perbaikan IT: ditangani dalam 2×24 jam kerja
  • Keluhan fasilitas: ditangani dalam 1×24 jam kerja

Tanpa SLA, permintaan bisa mengambang selama berminggu-minggu tanpa ada yang merasa bertanggung jawab.

Dengan SLA, setiap keterlambatan bisa teridentifikasi dan dievaluasi.

4. Sediakan Saluran yang Mudah Diakses untuk Karyawan Mengajukan Keluhan

Karyawan hanya akan melaporkan keluhan jika mereka merasa prosesnya mudah dan dapat diakses.

Jika prosesnya rumit, misalnya harus mengisi formulir kertas, menunggu approval dari tiga orang, lalu menyerahkan ke HR, banyak yang memilih untuk diam.

Pastikan perusahaan menyediakan saluran yang jelas dan mudah, baik melalui portal karyawan, aplikasi mobile, maupun formulir digital.

Semakin mudah proses pengajuan, semakin banyak keluhan yang masuk.

Banyaknya keluhan yang masuk bukanlah hal yang buruk, justru adanya keluhan membuat masalah yang tersembunyi bisa teridentifikasi lebih cepat.

5. Pantau dan Evaluasi Secara Berkala untuk Perbaikan Berkelanjutan

Pengelolaan keluhan dan permintaan karyawan bukan sekadar tentang menyelesaikan satu per satu tiket yang masuk.

Perusahaan perlu memantau tren keluhan dari waktu ke waktu untuk mengidentifikasi masalah sistemik.

Beberapa metrik yang perlu dipantau:

  • Jumlah tiket per departemen. Apakah ada departemen yang paling sering menjadi sumber keluhan?
  • Waktu penyelesaian rata-rata. Apakah ada jenis permintaan yang selalu tertunda?
  • Tingkat kepuasan karyawan. Apakah karyawan merasa permintaannya ditangani dengan baik?
  • Jumlah permintaan yang di-escalate. Apakah ada pola eskalasi yang menunjukkan masalah pada level tertentu?

Data dari sistem tiket dan HRIS bisa digunakan untuk membuat laporan analitik yang membantu pengambilan keputusan strategis.

Baca Juga: 15 Tips Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Kesimpulan

Mengelola keluhan dan permintaan karyawan secara efektif membutuhkan lebih dari sekadar kemauan baik dari tim HR.

Tanpa sistem yang terstruktur dan SOP yang jelas, setiap permintaan akan terus menumpuk tanpa ada kepastian kapan akan diselesaikan.

Dengan memisahkan fungsi HRIS untuk pengelolaan data karyawan dan sistem tiket untuk menangani permintaan di luar fungsi HR, perusahaan bisa membangun operasional yang lebih efisien dan karyawan yang lebih puas.

Langkah kecil seperti menerapkan sistem tiket bisa memberikan dampak besar terhadap budaya kerja dan produktivitas keseluruhan perusahaan.

Sekarang, Anda dapat memulai dengan mengevaluasi proses internal perusahaan Anda saat ini.

Identifikasi permintaan mana yang sebenarnya bukan ranah HR, lalu tentukan sistem tiket mana yang sesuai dengan kebutuhan dan skala perusahaan Anda.

Dengan begitu, Anda juga dapat mengelola keluhan dan permintaan karyawan Anda dengan efektif.

* Artikel ini hasil kerja sama antara Adaptist Consulting dengan GajiHub

Desi Murniati

Tinggalkan Komentar