Cognitive overload merupakan keadaan di mana otak menerima informasi melebihi kapasitas yang dimilikinya.
Keadaan ini bisa terjadi di tengah era yang segalanya menjadi serba cepat dan setiap orang bisa dengan mudah mendapatkan informasi dan notifikasi baru.
Ketika informasi baru muncul di waktu yang bersamaan, maka otak mau tidak mau harus menerima berbagai informasi berbeda secara bersamaan.
Keadaan ini bisa memberikan dampak yang jelas, misalnya membuat seseorang sulit untuk fokus, merasakan kelelahan mental, dan sering melakukan kesalahan.
Jika keadaan ini muncul di dunia kerja, maka bisa berdampak pada tugas dan alur kerja yang tidak tertata dengan baik.
Pada artikel ini GajiHub akan menjelaskan secara lengkap mengenai cognitive overload mulai dari pengertiannya, tanda, dan dampak yang dimilikinya.
Untuk penjelasan lebih lengkapnya Anda dapat menyimaknya di bawah ini:
Apa Itu Cognitive Overload?

Cognitive overload merupakan kondisi di mana otak selalu menerima terlalu banyak informasi ataupun tugas di saat bersamaan sehingga membuat otak tidak dapat memprosesnya dengan baik.
Setiap orang memiliki batas kemampuan mereka untuk bisa fokus, mengingat hal-hal penting, dan juga mengambil keputusan.
Jadi, ketika batas tersebut dilampaui, maka otak merasa kewalahan dan kinerja mental dapat menurun.
Situasi ini dapat dengan mudah ditemui dalam pekerjaan sehari-hari, misalnya ketika seseorang harus membalas pesan yang banyak secara bersamaan, mendapatkan chat dari berbagai aplikasi, hingga mengerjakan banyak tugas penting secara bersamaan.
Ketika ada banyak informasi yang masuk ke otak di waktu bersamaan, maka otak mengalami kesulitan untuk menentukan bagian mana yang harus diprioritaskan.
Namun perlu dipahami, beban kerja yang banyak tidak selalu menyebabkan cognitive overload.
Biasanya keadaan ini muncul pada saat pekerjaan tidak teratur, datang tiba-tiba, ataupun dibutuhkan konsentrasi yang tinggi tanpa adanya waktu istirahat.

Baca Juga: Multitasking dalam Bekerja: Pengertian, Kekurangan, dan Cara Menguranginya
Mengapa Cognitive Overload Dapat Terjadi?
Ada 4 penyebab yang membuat cognitive overload ini dapat terjadi, yakni:
1. Multitasking secara Berlebihan
Penyebab pertama dari cognitive overload adalah karena multitasking secara berlebihan.
Banyak yang menganggap bahwa multitasking menjadi cara bekerja yang efisien, padahal otak tidak dirancang untuk pindah fokus secara cepat.
Jadi, ketika orang mencoba menyelesaikan beberapa tugas secara bersamaan, maka otak harus terus melakukan perpindahan tugas dan bisa berakibat pada penurunan produktivitas dan beban mental dapat mengalami peningkatan.
2. Mendapatkan Informasi Terlalu Banyak
Penyebab kedua adalah karena mendapatkan informasi yang terlalu banyak.
Di era yang serba teknologi seperti saat ini membuat seseorang bisa mendapatkan informasi dari berbagai sumber.
Bisa dari email, chat kantor, pesan instan, hingga dari aplikasi pekerjaan.
Dari besarnya volume informasi yang terlalu besar ini membuat otak merasa kesulitan untuk menyaring informasi mana yang penting dan tidak penting, sehingga mengakibatkan terjadinya cognitive overload.
Baca Juga: Kerja Cerdas: Ini Pentingnya dan Cara Melakukannya
3. Time Management yang Buruk
Penyebab ketiga adalah manajemen waktu yang buruk.
Pada saat tugas tidak direncanakan dengan baik, atau karyawan sering menunda-nunda pekerjaan, maka beban kerja dapat menumpuk di waktu yang singkat.
Keadaan ini bisa menciptakan tekanan tambahan dan mau tidak mau otak harus bekerja dengan lebih keras dari biasanya untuk mengejar ketinggalan.
4. Terlalu Banyak Tugas
Penyebab yang terakhir adalah karena terlalu banyak tugas.
Ketika pekerjaan membutuhkan analisis yang mendalam, maka ini bisa menyita banyak kapasitas kognitif seseorang.
Tanpa adanya pelatihan yang memadai dari perusahaan dan tanpa memahami alur kerja yang jelas, maka tugas yang banyak cepat berubah menjadi sumber cognitive overload.
Baca Juga: 6 Teknik Pomodoro dan Manfaatnya, Apa Saja?
Apa Dampak Cognitive Overload?

Cognitive overload dapat memberikan dampak bagi kehidupan pekerjaan seseorang.
Jika ini dibiarkan dapat berpengaruh pada perkembangan masalah yang lebih serius.
Berikut 3 dampak dari cognitive overload yang penting untuk Anda pahami:
1. Produktivitas Menurun
Dampak yang pertama adalah produktivitas yang menurun.
Ini terjadi karena setiap orang memiliki batas kemampuan dalam hal mengelola tugas dan informasi.
Jadi, ketika beban kerja yang dimiliki terlalu banyak atau terlalu kompleks, maka seseorang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya.
Ini akhirnya membuat produktivitas dapat menurun dan target menjadi sulit untuk tercapai.
Baca Juga: 6 Strategi Manajemen Waktu untuk Tingkatkan Produktivitas
2. Terjadi Burnout
Ketika kondisi overload ini berlangsung secara terus menerus, maka dapat memicu terjadinya burnout, yakni sebuah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan juga mental.
Burnout ini tidak hanya menurunkan motivasi kerja, namun juga dapat memberikan dampak pada kepuasan kerja seseorang terhadap pekerjaan mereka.
3. Mengambil Keputusan yang Buruk
Cognitive overload juga berdampak pada pengambilan keputusan yang buruk dan terkesan tergesa-gesa.
Ketika otak dibanjiri oleh banyak informasi atau tekanan, maka kemampuan berpikir jernih dapat mengalami penurunan.
Ini membuat karyawan menjadi impulsif, terburu-buru, ataupun kuran teliti ketika mempertimbangkan pilihan.
Keadaan ini membuat mereka rentan mengambil keputusan yang kurang tepat.
Baca Juga: Tips Sukses di Jabatan Baru Ini Wajib Anda Lakukan
Apa Saja Tanda dari Cognitive Overload?

Agar tidak mendapatkan dampak dari keadaan ini, penting bagi Anda untuk memahami apa saja tanda-tanda dari cognitive overload ini.
Berikut 3 tanda dari cognitive overload yang penting untuk Anda pahami:
1. Kesulitan Berkonsentrasi
Tanda yang pertama adalah kesulitan untuk berkonsentrasi.
Ini terjadi karena beban kerja yang banyak sehingga seseorang sulit menentukan prioritas utama mereka.
Ketika mereka mengerjakan satu tugas, pikiran mereka terpecah karena ada tugas lainnya yang turut mereka mikirkan.
Jika Anda mengalami hal ini, maka bisa jadi Anda sedang ada di keadaan cognitive overload ini.
Baca Juga: 9 Cara Meningkatkan Fokus Kerja + 5 Tips Terbaiknya
2. Mudah Lupa
Cognitive overload juga membuat seseorang mudah untuk lupa.
Ini menjadi tanda yang sangat jelas dan terjadi ketika Anda dipaksa untuk multitasking.
Ketika memori kerja terlalu penuh, maka kapasitas untuk menyimpan informasi juga ikut menurun.
Ini akhirnya membuat seseorang sering melupakan detail penting, deadline, hingga instruksi pekerjaan.
3. Merasakan Kecemasan
Tanda yang terakhir adalah sering merasakan kecemasan.
Ini bisa terjadi dalam bentuk kewalahan, merasa stres, hingga akhirnya merasakan kecemasan.
Jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik, maka bisa memberikan dampak kepada kesehatan fisik dan mental dan berpengaruh pada aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: 10 Jenis dan Cara Mengatasi Distraksi Saat Bekerja + Tipsnya
Bagaimana Cara Mengatasi Cognitive Overload?

Untuk mengatasi keadaan ini, dibutuhkan kombinasi strategis antara fokus pada pengaturan tugas, pengelolaan energi, dan juga dukungan dari lingkungan kerja.
Berikut 4 cara mengatasinya yang bisa Anda lakukan:
1. Sederhanakan dan Prioritaskan Tugas
Cara mengatasi yang pertama adalah dengan menyederhanakan dan memprioritaskan tugas.
Tugas yang tidak terstruktur sering menjadi pemicu terjadinya keadaan overload ini.
Jadi penting bagi Anda untuk memecah pekerjaan besar ke pekerjaan-pekerjaan kecil agar lebih mudah untuk dikelola.
Dengan membuat tujuan yang jelas dan juga prioritas yang lebih terarah, maka Anda dapat bekerja dengan lebih fokus tanpa merasa kewalahan.
2. Ambil Istirahat secara Berkala
Cara kedua adalah dengan mengambil waktu istirahat secara berkala.
Berikan waktu jeda sejenak dapat membantu otak untuk menjaga kejernihan berpikir.
Istirahat singkat beberapa kali dalam sehari dapat Anda pilih, di mana bisa dilakukan untuk berjalan sebentar, melakukan peregangan, atau sekadar menjauh dari layar.
Cara-cara ini dapat membantu mengurangi stres dan memulihkan energi mental Anda.
Baca Juga: Analisis Beban Kerja: Pengertian dan Cara Manajemennya
3. Gunakan Metode Microlearning
Ketika sedang mempelajari hal baru, maka informasi yang diberikan secara sekaligus dalam jumlah besar dapat memicu terjadinya keadaan overload kognitif ini.
Di sini Anda dapat menggunakan metode microlearning yakni metode pembelajaran dalam potongan kecil yang mudah untuk dicerna.
Cara ini dapat membantu otak untuk memahami materi secara bertahap sehingga otak tidak mudah merasa kewalahan.
4. Dukung dengan Sumber Daya yang Memadai
Cara terakhir adalah dengan memberikan dukungan dengan sumber daya yang memadai.
Dengan lingkungan kerja yang suportif, maka dapat memberikan pengaruh untuk mencegah overload kognitif ini.
Misalnya perusahaan memberikan alat manajemen waktu, memberikan pelatihan yang relevan, hingga melakukan check-in secara rutin untuk memastikan karyawan tidak merasa terbebani.
Dengan cara ini karyawan dapat mengelola tuntutan kerja secara lebih terarah.
Baca Juga: Tanda Karyawan Double Job dan Aturannya
Kesimpulan
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai cognitive overload yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa cognitive overload merupakan keadaan di mana otak mendapatkan informasi melebihi kapasitas yang dimilikinya.
Jika keadaan ini dibiarkan begitu saja bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap pekerjaan seseorang.
Jadi penting bagi perusahaan untuk memberikan dukungan dalam mencegah dan mengatasi keadaan ini.
Salah satu caranya adalah dengan melakukan pengelolaan dengan sebaik mungkin.
Gunakan software absensi dari GajiHub untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
GajiHub merupakan software absensi yang dilengkapi berbagai fitur untuk kemudahan pengelolaan karyawan.
Yuk daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- Daftar PTS Terbaik di Indonesia Tahun 2026 Menurut UniRank - 18 February 2026
- Rekomendasi Software Konsolidasi dan Backdate untuk Bisnis - 18 February 2026
- Self Assessment System: Pengertian dan Dasar Hukumnya - 18 February 2026