Diskriminasi terhadap usia di tempat kerja masih sering terjadi, salah satunya dalam bentuk reverse ageism.
Reverse ageism merupakan diskriminasi yang terjadi karena usia yang dianggap terlalu muda.
Di Inggris, ada sekitar 36% orang dewasa mengatakan mereka pernah mengalami diskriminasi di tempat kerja, menurut laporan CIPHR.
Bentuk diskriminasi yang paling umum adalah diskriminasi berdasarkan usia, dengan 11% karyawan di seluruh Inggris mengatakan mereka pernah mengalami diskriminasi berdasarkan usia di tempat kerja.
Survei terbaru juga menemukan bahwa satu dari tiga pekerja di Inggris merasa dipaksa untuk pensiun karena diskriminasi berdasarkan usia.
Jika perusahaan Anda serius dalam hal keragaman, kesetaraan, dan inklusi, menangani ageism harus menjadi prioritas utama.
Menurut Age UK, Diskriminasi berdasarkan usia, juga disebut ageism, adalah ketika seseorang memperlakukan Anda secara tidak adil karena usia Anda.
Age UK memberikan beberapa contoh yang berfokus pada diskriminasi terhadap orang tua, tetapi pada kenyataannya, ageism lebih luas dari itu.
Seperti yang dikatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ‘ageism memengaruhi semua orang’.
Penelitian WHO menemukan bahwa setengah dari populasi dunia melakukan ageism terhadap orang tua, tetapi orang muda melaporkan diskriminasi berdasarkan usia lebih banyak daripada kelompok usia lainnya.
Dalam artikel ini, GajiHub akan membahas secara lengkap mengenai reverse ageism, mulai dari pengertiannya, contoh, dan cara mencegahnya.
Untuk lebih lengkapnya Anda dapat membaca penjelasan yang ada di bawah ini:
Apa yang Dimaksud dengan Reverse Ageism?

Reverse ageism merupakan diskriminasi ataupun perlakukan tidak adil kepada karyawan yang lebih muda dikarenakan usia mereka.
Jika Anda pernah menemui kesan karyawan senior lebih kolot, nah reverse ageism ini sebaliknya.
Mereka memberikan sasaran kepada karyawan yang usianya lebih muda atau posisi junior.
Hal ini terjadi karena banyak dari mereka yang menganggap karyawan yang lebih muda tidak berpengalaman dan tidak profesional.
Selain itu, dianggap belum tahu apa-apa mengenai dunia kerja, tidak bisa loyal atau sering pindah kerja, dan tidak cukup dewasa untuk memegang tanggung jawab yang besar.
Secara umum, istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi di mana kemampuan karyawan yang lebih muda diremehkan atau dihalangi bukan karena kinerjanya, namun karena prasangka usianya.

Baca Juga: Diskriminasi SARA di Tempat Kerja: Ini Cara Mengatasinya
Bagaimana Contoh Reverse Ageism di Tempat Kerja?

Agar Anda bisa lebih mudah untuk memahami reverse ageism, berikut contohnya untuk Anda:
1. Ide dan Pendapat Sering Diabaikan
Contoh yang pertama adalah ide dan pendapat yang sering diabaikan.
Ketika karyawan muda mengutarakan ide, sering kali diabaikan oleh atasan atau karyawan yang lebih muda.
Ini karena mereka dianggap tidak mengetahui apa-apa karena usia mereka yang masih muda.
Padahal, meski masih muda ide dan pendapat mereka sama-sama berharga dan bisa memberikan dampak yang positif terhadap perusahaan.
2. Tidak Ada Promosi Meski Memiliki Prestasi
Meski karyawan muda memiliki prestasi, mereka tidak mendapatkan promosi atau kenaikan jabaran karena usia mereka.
Ini pada akhirnya bisa membuat pengembangan karier karyawan muda menjadi terhambar dan tidak mendapatkan kesempatan untuk memimpin tim.
Dibandingkan melihat kinerja atau pencapaian, senior menjadikan umur karyawan sebagai penilaian utama untuk diberikan kenaikan jabatan di perusahaan.
Baca Juga: Equal Employment Opportunity: Arti, Prinsip, dan Cara Penerapan
3. Mendapatkan Tugas yang Remeh
Ketika, karyawan muda hanya diberikan tugas yang remeh, seperti tugas administrasi repetitif dan kurang menantang.
Ini karena mereka dianggap terlalu muda dan belum siap untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab strategis perusahaan.
4. Adanya Panggilan Kurang Menghargai
Terakhir, karyawan muda juga memiliki panggilan yang kurang menghargai, ini termasuk komentar yang terkesan meremehkan dari senior di tempat kerja.
Misalnya adalah panggilan “anak baru”, “rookie” ataupun panggilan-panggilan lainnya yang membuat karyawan kurang dihargai dan diremehkan.
Baca Juga: 10 Jenis Pelanggaran Karyawan dan Cara Menyikapinya
Apa Dampak dari Reverse Ageism?

Sebagai salah satu bentuk diskriminasi di dunia kerja, reverse ageism memiliki dampak bagi karyawan muda dan juga perusahaan, yakni:
Dampak bagi Karyawan Muda
1. Menimbulkan Perasaan Stres dan Tidak Percaya Diri
Adanya diskriminasi ini dapat menimbulkan perasaan stres dan tidak percaya diri.
Ini terjadi karena karyawan muda sering diremehkan dan tidak didengar oleh senior atau atasan.
Dari perlakuan ini karyawan muda dapat merasa lelah secara mental karena mereka berusaha keras untuk membuktikan diri.
Ini akhirnya membuat stres, merasa cemas, hingga menghilangkan rasa percaya diri di dalam diri mereka.
2. Terjadi Penurunan Semangat dan Motivasi Kerja
Karyawan muda juga bisa mengalami penurunan semangat kerja karena adanya diskriminasi usia ini.
Ini terjadi karena ide-ide terbaik mereka selalu diabaikan ataupun mereka hanya mendapatkan tugas yang membosankan dan tidak menantang.
Dari sini mereka dapat kehilangan semangat dan minat untuk memberikan kontribusi terbaik.
Pada akhirnya dibandingkan terjadi peningkatan kinerja, justru terjadi penurunan kinerja.
3. Adanya Dorongan untuk Resign
Terakhir, adanya dorongan untuk resign.
Karena sering diremehkan dan tidak dihargai ide-idenya, karyawan muda mendapatkan dorongan untuk resign.
Mereka ingin mencari perusahaan yang lebih baik yang bisa menghargai dan memberikan kesempatan berkembang bagi mereka.
Baca Juga: 8 Prinsip dalam Implementasi Etika HR di Lingkungan Kerja
Dampak bagi Perusahaan
1. Menghambat Inovasi
Dampak yang pertama adalah bisa menghambat inovasi perusahaan.
Karena adanya diskriminasi ini perusahaan kehilangan kesempatan berkembang karena mengabaikan pendapat dan ide dari karyawan yang lebih muda.
Padahal, tanpa adanya diskriminasi ini mereka dapat memberikan invasi dan mendukung kemajuan perusahaan.
2. Penurunan Produktivitas dan Bisnis Tidak Sehat
Penjelasan sebelumnya, reverse ageism memberikan dampak pada penurunan semangat karyawan, ternyata ini tidak hanya berlaku bagi karyawan tetapi juga bagi perusahaan.
Ketika karyawan merasa tidak termotivasi, maka produktivitas tim dapat menurun secara keseluruhan.
Dengan begitu perkembangan perusahaan dapat terhambat.
3. Reputasi Perusahaan Menjadi Rusak
Terakhir, diskriminasi ini juga bisa merusak reputasi perusahaan.
Seperti yang diketahui, saat ini informasi dapat dengan cepat menyebar di media sosial, termasuk terhadap hal yang berhubungan dengan budaya kerja yang buruk.
Ketika ada perusahaan yang tidak ramah terhadap karyawan muda, mereka dapat kesulitan untuk menarik kandidat-kandidat terbaik di masa depan.
Jika ini terjadi dapat membuat perusahaan merekrut karyawan kurang berkualitas karena pilihan talenta yang terbatas.
Baca Juga: Pengertian dan Contoh Non-Discrimination Policy
Bagaimana Cara Mencegah Terjadinya Reverse Ageism?

Tentunya agar praktik diskriminasi ini tidak terjadi di lingkungan kerja, perusahaan dan tim HR harus melakukan strategi yang tepat untuk mencegahnya.
Terlebih dengan dampak-dampak yang bisa didapatkan keduanya, mencegah adalah hal terbaik sebelum perusahaan dan karyawan dirugikan.
Berikut 5 cara mencegah terjadinya reverse ageism di tempat kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan:
1. Buat Proses Rekrutmen yang Adil
Untuk mencegah terjadinya reverse ageism dilakukan dari tahap awal yakni rekrutmen karyawan.
Bisa dibilang rekrutmen ini menjadi pintu awal untuk masuk ke perusahaan dan mencegah terjadinya diskriminasi dimulai dari saat ini.
Ada langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan proses rekrutmen yang adil.
Mulai dari menghapus batas usia yang ada di iklan lowongan kerja, hingga membuat wawancara terstruktur.
Ini menjadi langkah dasar menciptakan keadilan bagi seluruh karyawan, karena setiap karyawan berhak atas kesempatan yang sama dan bukan berdasarkan usia.
Baca Juga: Toxic Workplace: Pengertian, Tanda, dan Cara Menghadapinya
2. Fokus pada Kemampuan Kandidat
Kedua, fokuskan rekrutmen pada kemampuan yang dimiliki oleh kandidat.
Melihat kemampuan yang dimiliki oleh kandidat menjadi langkah penting menciptakan lingkungan kerja yang adil dan sehat.
Alih-alih menilai berdasarkan asumsi pengalaman dan kemampuan dari usia, Anda dapat langsung menyeleksi kandidat dari kemampuan mereka.
Terlebih saat ini banyak generasi muda yang memiliki kemampuan terbaik yang bisa bersaing di dunia kerja.
3. Bangun Budaya Inklusif
Ketiga, dengan membangun budaya kerja inklusif.
Merekrut karyawan muda dapat percuma jika mereka mendapatkan lingkungan yang kurang menghargai mereka.
Untuk itu Anda harus memberikan dukungan dengan membangun budaya kerja inklusif di perusahaan Anda.
Ini dapat dimulai dengan membuat aturan anti diskriminasi secara jelas, memberikan pelatihan dan edukasi, hingga pemimpin yang harus bisa memberikan contoh yang baik.
Buat kebijakan secara tertulis mengenai larangan diskriminasi berdasarkan usia agar siapa saja yang melakukannya mendapatkan sanksi.
Cara ini menjadi langkah tegas untuk melindungi perusahaan dari adanya praktik diskriminasi.
Baca Juga: 6 Jenis Konflik di Tempat Kerja dan Tips Mengelolanya
4. Buat Penilaian Kinerja dan Promosi Objektif
Cara berikutnya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya reverse ageism adalah dengan membuat penilaian kinerja dan promosi yang objetif.
Ini karena bias sering kali terjadi pada saat penilaian kinerja dan promosi karyawan.
Untuk itu penting bagi perusahaan untuk membuat kriteria promosi yang transparan dan memberikan kesempatan bagi setiap karyawan untuk dapat berkembang.
Ini bisa diberikan melalui akses pelatihan, sertifikasi, hingga proyek-proyek penting untuk pengembangan karier mereka.
5. Buat Program Mentoring Dua Arah
Cara terakhir yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya reverse ageism adalah dengan membuat program mentoring dua arah.
Ini menjadi cara yang ampun untuk mengatasi adanya kesenjangan generasi.
Perusahaan dapat membuat konsep yang sederhana, misalnya dengan memasangkan karyawan junior yang paham teknologi, media sosial, atau tren pasar baru, dengan mentor dari para manajer atau eksekutif senior.
Dengan cara ini para senior dapat belajar hal baru dan junior dapat merasa dihargai dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.
Baca Juga: 13 Penyebab Turnover Karyawan Tinggi dan Cara Mengatasinya
Kesimpulan
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai reverse ageism yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa reverse ageism menjadi salah satu bentuk diskriminasi di tempat kerja dengan cara memperlakukan tidak adil karyawan karena usia mereka yang muda.
Tentunya perusahaan harus mencegah terjadinya diskriminasi ini agar setiap karyawan dapat bekerja di lingkungan kerja yang nyaman.
Selain melalui cara-cara di atas, mencegah reverse ageism juga dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan karyawan sebaik mungkin.
Gunakan sistem HRIS dari GajiHub untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
GajiHub merupakan sistem HRIS yang dilengkapi berbagai fitur untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan.
Yuk daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- Reverse Ageism: Dampak dan Cara Mencegahnya - 14 January 2026
- Narsistik di Tempat Kerja: Ciri dan Cara Menghadapi - 14 January 2026
- Karyawan Neurodivergent: Tantangan dan Cara Mengelolanya - 13 January 2026