Buat Anda yang sedang mencari karyawan dengan kemampuan berpikir out of the box, karyawan neurodivergent menjadi pilihan yang tepat.
Di tengah perkembangan dunia kerja saat ini, dibutuhkan karyawan dengan kemampuan yang beda dari yang lain.
Banyak perusahaan yang sedang mengusahakan hal ini, namun jarang dari mereka yang memperhatikan karyawan neurodivergent.
Karyawan neurodivergent merupakan karyawan dengan pola pikir, cara belajar, dan proses kerja yang berbeda dari sebagian besar orang.
Meski berbeda, namun dari perbedaan ini karyawan ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi aset dari perusajaan.
Pada artikel ini GajiHub akan menjelaskan secara lengkap mengenai karyawan neurodivergent mulai dari pengertiannya, tantangan, dan cara mengelolanya.
Untuk penjelasan lengkapnya Anda dapat menyimak penjelasan yang ada di bawah ini:
Mengenal Karyawan Neurodivergent

Karyawan neurodivergent merupakan karyawan dengan pola pikir, cara belajar, hingga cara memproses informasi yang berbeda dari orang lain pada umumnya.
Contohnya adalah orang-orang dengan autisme, ADHD, disleksia, hingga kondisi neurologis lainnya.
Memang, keadaan neurologis mereka ini sering membuat mereka terlihat berbeda khususnya dalam berinteraksi sosial ataupun dari cara mereka bekerja, namun dari perbedaan inilah ada potensi yang luar biasa.
Pada awalnya keadaan neurodivergent ini sering dianggap sebagai kelainan, namun terdapat berbagai perdebatan di mana keadaan ini tidak selalu menjadi masalah bagi individu.
Keadaan ini hanya berkaitan dengan perbedaan cara kerja otak manusia.
Jadi, ketika mereka memasuki dunia kerja, selagi HR mampu memahami cara kerja mereka dan mendukungnya dengan lingkungan kerja yang nyaman, melalui penyediaan instruksi tertulis, fleksibilitas, atau ruang tenang, merekrut karyawan ini bisa jadi menguntungkan bagi perusahaan.

Baca Juga: Diskriminasi SARA di Tempat Kerja: Ini Cara Mengatasinya
Apa Saja Bentuk Neurodivergent?
Sebelum Anda merekrut pekerja neurodivergent, penting bagi Anda untuk memahami apa saja bentuk dari neurodivergent ini.
Berikut 4 bentuk neurodivergent tersebut:
1. Autisme
Autisme merupakan gangguan pada perkembangan dan perilaku individu akibat perbedaan pengolahan informasi akibat cara kerja otak tertentu.
Ketika seseorang memiliki kondisi autisme, mereka banyak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, belajar, dan juga berhubungan sosial.
Autisme ini masuk sebagai salah satu bentuk neurodivergent karena ada perbedaan yang signifikan antara cara kerja otak pada umumnya dengan cara kerja otak mereka.
2. ADHD
ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder merupakan keadaan di mana seseorang sulit untuk memusatkan perharian, mengelola pikiran, dan adanya perilaku impulsif dan hiperaktif.
Tentunya kondisi ini dapat berpengaruh pada hubungan sosial, baik pada saat sekolah atau bekerja.
Mereka dengan kondisi ADHD juga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, mudah gelisah, dan kadang menunjukkan perilaku yang tidak tepat ketika ada emosi yang kuat.
Baca Juga: Equal Employment Opportunity: Arti, Prinsip, dan Cara Penerapan
3. Disleksia
Bentuk neurodivergent selanjutnya adalah disleksia yakni kondisi yang ditandai dengan kesulitan seseorang dalam menulis, membaca, dan mengeja.
Disleksia ini masuk ke dalam neurodivergent karena adanya perbedaan cara kerja otak yang signifikan, khususnya dalam hal memproses bahasa.
Meski begitu, mereka dengan kondisi disleksia secara umum memiliki kemampuan yang sangat baik dalam pemrosesan visual.
4. Dyspraxia
Dyspraxia merupakan gangguan pada koordinasi gerak yang terjadi karena adanya perbedaan pada perkembangan sistem saraf manusia.
Dyspraxia atau developmental coordination disorder merupakan kondisi bawaan namun sering kali tidak terdeteksi sejak seseorang lahir.
Selain adanya kekurangan dalam koordinasi pergerakan tubuh, dyspraxia juga ditandai dengan perilaku yang ceroboh, misalnya sering terbentuk ataupun menjatuhkan barang.
Baik autisme, ADHD, disleksia, ataupun dyspraxia bukanlah kondisi media sehingga tidak dapat dicegah, diobati, dan disembuhnya.
Namun kondisi-kondisi ini dapat dikelola dan diarahkan sehingga dapat berkembang dengan baik.
Baca Juga: 10 Cara Menjadi Karyawan Unggul di Perusahaan
Apa Saja Tantangan yang Harus Dihadapi Karyawan Neurodivergent?

Dengan kondisi yang dimilikinya, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh pekerja dengan neurodivergent ini.
Mereka sering kali merasa kesulitan dalam memproses informasi dengan cepat, kesulitan membaca isyarat non verbal, hingga harus menghadapi tekanan sensori.
Untuk lebih jelasnya mengenai tantangannya, berikut penjelasan lengakpnya:
1. Adanya Hambatan Komunikasi
Tantangan yang pertama adalah adanya hambatan komunikasi.
Ini terjadi karena mereka dengan keadaan neurodivergent sering mengalami kesulitan memahami dan menyampaikan informasi dalam gaya komunikasi pada umumnya.
Di sini mereka bisa terlalu literal, tidak dapat membaca isyarat non verbal, hingga merasa kesulitan untuk mengikuti obrolan kelompok tanpa struktur yang jelas.
Keadaan ini bisa menimbulkan miskomunikasi, penilaian yang tidak adil, dan kesan tidak kooperatif.
Baca Juga: Mengetahui Klasifikasi Karyawan Untuk Para Praktisi HR
2. Sensory Overload
Tantangan yang kedua adalah sensory overload.
Bagi neurodivergent lingkungan kerja modern, misalnya pada kantor terbuka, banyak cahaya terang, hingga kebisingan dapat membebani mereka.
Bahkan beberapa dari mereka merasa kesulitan untuk konsentrasi atau mengalami stres yang tinggi karena keadaan lingkungan yang terlalu ramai.
3. Merasa Ketakutan
Kenyataannya saat ini masih banyak terjadi stigma, prasangka, dan diskriminasi terhadap mereka dengan kondisi neurodivergent.
Ini membuat mereka merasa ketakutan untuk mengungkapkan kondisi mereka kepada orang lain secara terbuka.
Akhirnya banyak yang memilih menyembunyikan ciri khasnya sehingga membuat mereka stres dan cepat merasa lelah.
Baca Juga: Hijack Karyawan: Pengertian, Cara Kerja, dan Aturannya
Alasan Karyawan Neurodivergent Perlu Didukung Perusahaan

Memang, karyawan neurodivergent sering mengalami tantangan di lingkungan pekerjaan, namun ada juga keunikan yang dimiliki oleh mereka, yakni:
- Dapat fokus dalam jangka panjang untuk satu hal
- Memiliki daya ingat yang tajam, serta ketelitian dalam detail
- Memiliki kemampuan untuk melihat pola dan tren dari data yang terlewat oleh orang lain
- Memiliki kemampuan berpikir kreatif dan out of the box hingga kemampuan penyelesaian masalah yang tajam
Dari kelebihan inilah sudah selayaknya perusahaan memberikan dukungan kepada mereka sebagai salah satu langkah strategis guna memberikan banyak keuntungan melalui kemampuan inovasi, produktivitas, hingga penyelesaian masalah di tempat kerja.
Baca Juga: Budaya Kerja Inklusif: Cara Membangun, dan Contohnya
Bagaimana Cara Mengelola Karyawan Neurodivergent?

Untuk mengelola karyawan neurodivergent, ada strategi yang tepat agar karyawan tersebut dapat bekerja dengan optimal di perusahaan.
Berikut 5 cara mengelola karyawan neurodivergent secara tepat:
1. Membangun Kesadaran
Cara mengelola yang pertama adalah dengan membangun kesadaran mengenai neurodivergent.
Kesadaran ini dibentuk dengan diberikan pelatihan mengenai neurodivergent agar orang-orang dapat memahami dan menerima mereka.
Mereka juga bisa mendapatkan kesetaraan termasuk berkaitan dengan pekerjaan karena dengan keadaan mereka juga masih bisa bekerja.
Baca Juga: Culture Shock di Tempat Kerja: Dampak dan Cara Mengatasi
2. Hilangkan Stigma
Kedua hilangkan stigma yang ada bahwa orang dengan neurodivergent tidak bisa bekerja dengan baik.
Untuk mendukung karyawan dengan neurodivergent perusahaan harus menghilangkan stigma yang ada agar mereka dapat bekerja secara maksimal.
Sama seperti dengan membangun kesadaran, menghilangkan stigma juga dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan dan sesi berbagi pengalaman.
Melalui kegiatan ini karyawan lainnya dapat lebih memahami keadaan mereka dan memperlakukan dengan adil.
3. Kenali Kebutuhan dan Preferensi
Cara berikutnya adalah dengan mengenali kebutuhan dan preferensi.
Dalam hal ini, penting bagi Anda untuk mengambil keputusan berdasarkan asumsi umum.
Di sini penting bagi Anda untuk berdiskusi dengan karyawan untuk lebih memahami preferensi mereka, khususnya berkaitan dengan kebutuhan mereka.
Misalnya adalah kebutuhan terhadap instruksi tertulis, lingkungan yang tenang, waktu kerja yang fleksibel, dan alat bahan tertentu.
Baca Juga: 8 Manajemen Karyawan Remote untuk Tetap Produktif
4. Dukung Komunikasi secara Jelas
Sebagai bentuk dukungan kepada karyawan neurodivergent dibutuhkan komunikasi secara jelas dan terbuka.
Gunakan bahasa yang sederhana, memberikan instruksi secara tertulis, membuat rangkuman rapat, dan jika diperlukan bisa menggunakan visualisasi.
Dengan cara ini perusahaan bisa membantu mereka untuk memahami tugas dan tanggung jawab mereka dengan baik.
5. Berikan Sistem Kerja Fleksibel
Cara yang terakhir adalah dengan memberikan sistem kerja yang fleksibel.
Anda dapat memberikannya dalam bentuk fleksibilitas jam kerja, opsi kerja remote, hingga memberikan break tambahan ketika sedang overload sensor.
Di sini HR dapat menyusun kebijakan akomodatif sebagai langkah menciptakan lingkungan yang mendukung keberagaman.
Baca Juga: Karyawan Temporer: Pengertian dan Aturannya di Indonesia
Kesimpulan
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai karyawan neurodivergent yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa karyawan neurodivergent menjadi karyawan sering dianggap berbeda karena cara kerja otak mereka yang berbeda.
Meski begitu, jika perusahaan bisa memberikan fasilitas yang mendukung mereka, mereka dapat menjadi talenta berharga dengan pemikiran unik dan out of the box.
Oleh karena penting bagi karyawan untuk memberikan dukungan melalui pengelolaan karyawan terbaik.
Gunakan sistem HRIS dari GajiHub untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
Yuk daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- Karyawan Neurodivergent: Tantangan dan Cara Mengelolanya - 13 January 2026
- 10 Contoh Surat Panggilan Internal dan Fungsinya - 13 January 2026
- Karyawan Half Day: Regulasi dan Cara Menerapkannya - 12 January 2026