Narsistik di tempat kerja menjadi salah satu permasalahan yang sering terjadi.
Ini bisa terjadi pada rekan kerja atau bos dengan sifat yang narstik.
Biasanya, mereka sering bersikap merasa paling hebat, suka merendahkan orang lain, hingga haus dengan pujian.
Jika keadaan ini dibiarkan bisa menimbulkan ketidaknyamanan di lingkungan kerja dan membuat lingkungan kerja menjadi toxic atau beracun.
Hingga akhirnya dapat berpengaruh pada penurunan produktivitas di dalam tim.
Oleh karenanya penting bagi Anda untuk mengenai seperti apa narsistik di tempat kerja ini, mulai dari mengenali pengertiannya, ciri-ciri, dampak, hingga cara mengatasinya.
Untuk penjelasan lebih lengkapnya Anda dapat menyimaknya di bawah ini:
Apa yang Dimaksud Narsistik di Tempat Kerja?

Sebelum membahas mengenai narsistik di tempat kerja, penting bagi Anda untuk memahami apa pengertian dari narsistik.
Narsistik atau narsis merupakan keadaan kepercayaan diri secara berlebihan.
Dalam dunia psikologi, narsistik tidak hanya sekadar rasa percaya diri yang berlebihan namun menjadi bagian dari gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap egois secara berlebihan, kebutuhan dipuji, hingga kurangnya empati.
Di tempat kerja, sifat ini dapat muncul pada diri siapa saja, baik itu bos atau atasan, rekan kerja, hingga bawahan.
Sebagai salah satu gangguan kepribadian, jika sifat narsistik ini tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaan.

Baca Juga: Toxic Workplace: Pengertian, Tanda, dan Cara Menghadapinya
Apa Saja Ciri-Ciri Narsistik di Tempat Kerja?

Untuk mengenal lebih dalam mengenai narsistik ini, penting bagi Anda untuk memahami apa saja ciri-ciri yang dimilikinya.
Tentunya dari ciri-ciri ini Anda dapat dengan mudah mengklasifikasi rekan kerja atau anggota tim Anda dan jika dibutuhkan bisa memberikan bantuan profesional.
Secara umum, narsistik ini memiliki sikap sering membanggakan diri sendiri secara berlebihan, bersikap arogan, manipulatif, hingga sering menuntut sesuatu dari orang lain.
Untuk penjelasan lengkapnya Anda dapat menyimaknya di bawah ini:
1. Merasa Istimewa
Ciri yang pertama adalah merasa istimewa, sebuah sikap yang lebih dari sombong atau angkuh.
Di sini mereka memandang diri mereka sebagai seseorang yang spesial dan unik sehingga hanya orang-orang spesial saja yang bisa memahami mereka.
Melalui cara berpikir ini, orang narsis merasa tidak layak jika mereka hanya mendapatkan hal-hal biasa.
Menurut mereka, hal-hal sederhana dan biasa tidak cocok untuk manusia istimewa seperti mereka.
Ini membuat mereka selalu merasa lebih banyak berkontribusi dan berkorban dalam banyak hal dan orang lain beruntung telah mengenal mereka.
2. Imajinatif di Pikiran Mereka Sendiri
Ciri kedua adalah imajinatif di dalam pikiran mereka, yakni mereka menciptakan dunia fantasi di dalam pikiran mereka.
Mereka menciptakan pemikiran bahwa mereka adalah orang yang istimewa sesuai dengan imajinasi mereka.
Mereka merasa mereka sebagai sosok yang paling sukses, kuat, cerdas, menarik, dan juga sempurna.
Jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya ini adalah cara mereka menghindari perasaan kosong dan malu yang tersembunyi di dalam diri mereka.
Karena hal ini mereka merasa defensif terhadap orang lain ketika tidak sama pendapatnya dengan mereka.
Baca Juga: Workplace Phobia: Pengertian, Gejala, dan Cara Mengatasinya
3. Haus Pujian
Ciri berikutnya adalah mereka haus dengan pujian.
Mereka memiliki kebutuhan yang sangat tinggi untuk menerima pujian secara terus menerus.
Di sini mereka ingin orang lain memberikan pujian kepada mereka setiap hari, bahkan ketika mereka tidak melakukan sesuatu yang special.
Ini terjadi karena mereka selalu membutuhkan validasi dari orang lain.
4. Merasa Berhak Mendapatkan Segala Hal
Ciri berikutnya adalah orang narsistik merasa berhak mendapatkan segalanya.
Pemikiran seperti ini terjadi karena mereka merasa diri mereka istimewa dan berhak mendapatkan semua yang mereka inginkan.
Jika orang lain tidak dapat memenuhi keinginan mereka, maka mereka menganggap orang tersebut tidak berguna.
Terlebih jika orang tersebut meminta imbalan atau perlakuan yang sama, biasanya respons mereka cenderung dingin dan acuh tak acuh.
Baca Juga: Toxic Productivity: Pengertian, Ciri, dan Cara Mengatasinya
5. Tidak Memiliki Empati
Mereka dengan sifat narsistik dikenal tidak peka terhadap perasaan orang lain atau tidak punya empati.
Mereka merasa kesulitan untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Oleh karenanya, mereka sering tidak ragu untuk mengambil keuntungan dari orang lain, khususnya jika hal tersebut bisa membantu mereka mencapai tujuan.
Permasalahannya, mereka dengan gangguan ini tidak menyadari betapa buruknya perilaku mereka kepada orang lain.
Ini terjadi karena mereka tidak memikirkan dampak dari perilaku mereka terhadap orang lain.
6. Sering Mengintimidasi
Terakhir adalah sering mengintimidasi.
Mereka sering melakukan intimidasi, merundung, hingga merendahkan orang lain.
Khususnya ketika mereka merasa terancam oleh seseorang yang memiliki sesuatu yang dinginkan namun tidak mereka miliki.
Mereka merasa benci ketika ada orang lain bahagia jika mereka tidak bisa merasakannya.
Di sinilah mereka akhirnya mengintimidasi orang lain sebagai cara untuk melindungi diri sendiri.
Baca Juga: Toxic Leadership: Tanda dan Cara Menyikapinya
Apa Dampak dari Narsistik di Tempat Kerja?

Jika narsistik di tempat kerja ini dibiarkan, tentunya bisa memberikan dampak yang buruk.
Berikut 4 dampak yang bisa didapatkan dari narsistik di tempat kerja:
1. Menurunkan Moral Tim
Ketika ada satu karyawan atau atasan yang memiliki sikap narsis di tempat kerja, maka pengaruhnya bisa ke keseluruhan tim.
Tim dapat mengalami penurunan moral karena mereka merasa tidak dihargai dan merasa apa yang mereka berikan ke perusahaan dan tim sia-sia.
Jika ini dibiarkan dapat berdampak pada produktivitas karyawan dan juga perusahaan secara keseluruhan.
2. Meningkatkan Konflik di Perusahaan
Narsistik di tempat kerja juga berdampak dalam meningkatkan konflik di perusahaan.
Ini terjadi karena adanya komunikasi yang tidak sehat dan juga adanya persaingan yang tidak sehat.
Antara satu karyawan dengan lainnya saling sikut dan karyawan yang tidak bisa bertahan pada akhirnya memilih keluar untuk menyelamatkan diri.
Baca Juga: Chaotic Working: Dampak dan Cara Mengatasinya
3. Kurangnya Kolaborasi
Dampak yang berikutnya adalah kurangnya kolaborasi.
Karyawan merasa kesulitan dalam bekerja karena tim didominasi oleh satu pihak.
Bahkan semua anggota tim dipaksa untuk mengikuti kemauan satu orang dan tidak memiliki hak untuk berpendapat.
4. Terjadinya Burnout
Dampak yang terakhir adalah mengakibatkan terjadinya burnout.
Burnout ini terjadi karena adanya stres akibat tekanan dari individu yang narsistik.
Jika ini dibiarkan bisa membuat karyawan lainnya terkena tekanan mental dan memilih untuk resign.
Baca Juga: Ciri-Ciri dan Cara Mengatasi Karyawan Red Flag
Bagaimana Cara Menghadapi Rekan Kerja yang Narsistik?

Tentunya agar Anda dapat bertahan di lingkungan kerja dengan rekan kerja atau atasan yang narsistik, dibutuhkan cara menghadapi yang tepat.
Berikut 5 cara menghadapinya yang perlu untuk Anda ketahui:
1. Tetap Bersikap Profesional
Untuk menghadapi rekan kerja atau atasan yang narsistik, hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan tetap bersikap profesional.
Jangan berikan ruang bagi mereka untuk semakin menunjukkan diri.
Anda juga bisa menghindari konflik emosional dan tetap fokus pada pekerjaan.
Cara ini menjadi langkah terbaik agar Anda tetap dapat bertahan di tengah lingkungan kerja yang tidak sehat.
Baca Juga: Corporate Stockholm Syndrom: Bagimana Cara Menanganinya?
2. Buat Batasan yang Jelas
Cara kedua adalah dengan membuat batasan yang jelas.
Jangan biarkan mereka mengambil keuntungan dari diri Anda dan jangan berikan ruang bagi mereka untuk mengontrol Anda.
4. Lakukan Dokumentasi Interaksi
Keempat, Anda bisa melakukan dokumentasi interaksi di dalam tim.
Jika memang sudah ada pihak yang mengganggu kinerja tim, Anda bisa melaporkannya mereka.
Ini dilakukan karena pada akhirnya ketika terjadi penurunan kinerja, yang berdampak adalah keseluruhan tim.
Jadi, jika ada satu pihak yang menjadi gangguan di dalam tim, antisipasi secepat mungkin sebelum memberikan kerugian kepada seluruh tim.
Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Underperformance Employee
5. Jaga Kesehatan Mental Anda
Terakhir, jaga kesehatan mental Anda.
Pada akhirnya kesehatan diri Anda adalah yang paling berharga dibandingkan hal-hal lainnya.
Dari kesehatan mental Anda ini, nantinya bisa berdampak pada produktivitas dan kinerja Anda.
Jika Anda merasa adanya tekanan mental, Anda bisa mengkonsultasikannya dengan tim HR dan meminta solusi dari mereka.
Baca Juga: 10 Perbedaan Bos dan Leader, Mana Karakter Anda?
Kesimpulan
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai narsistik di tempat kerja yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa narsistik di tempat kerja menjadi permasalahan yang harus ditangani agar tidak memberikan dampak yang buruk bagi karyawan dan perusahaan.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan pengelolaan karyawan dengan sebaik mungkin.
Gunakan software absensi dari GajiHub untuk memudahkan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.
GajiHub merupakan software absensi yang dilengkapi berbagai fitur untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan, mulai dari pengelolaan kehadiran, pengelolaan penggajian, BPJS, PPh 21, integrasi akuntansi, cuti dan izin, reimbursement, kasbon, hingga analisis data.
Yuk daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.
- Reverse Ageism: Dampak dan Cara Mencegahnya - 14 January 2026
- Narsistik di Tempat Kerja: Ciri dan Cara Menghadapi - 14 January 2026
- Karyawan Neurodivergent: Tantangan dan Cara Mengelolanya - 13 January 2026