GajihubTalk: Strategi Employer Branding dari Culture ke Brand yang Berdampak

webinar gajihubtalk 4

Employer branding kini menjadi salah satu topik paling relevan dalam dunia HR dan bisnis modern.

Di tengah kompetisi talenta yang semakin ketat, perusahaan tidak lagi cukup hanya menawarkan gaji kompetitif, tetapi juga perlu membangun citra sebagai tempat kerja yang sehat, berkembang, dan bermakna bagi karyawan. Employer branding pun bertransformasi dari sekadar tren menjadi strategi jangka panjang.

Melalui webinar GajihubTalk #4 bertajuk “From Culture to Brand: Strategi Employer Branding yang Berdampak”, Gajihub menghadirkan diskusi mendalam mengenai bagaimana employer branding dibangun dari dalam organisasi.

Webinar ini menegaskan bahwa employer branding bukan hanya soal tampilan luar, tetapi cerminan budaya, sistem kerja, dan pengalaman nyata karyawan.

Dua pembicara hadir dalam sesi ini: M. Ahwy Karuniyado sebagai praktisi HR yang membahas fondasi budaya dan realitas employer branding di lapangan, serta Novianda Melinda selaku Senior Consultant Gajihub yang mengupas peran sistem dan teknologi HR modern dalam mendukung employer branding.

Sesi 1 — M. Ahwy Karuniyado: Employer Branding Dimulai dari Budaya dan Pengalaman Karyawan

webinar gajihub talk 4 1

Pada sesi pertama, M. Ahwy Karuniyado menjelaskan bahwa employer branding berbeda dari branding produk.

Fokusnya bukan konsumen, melainkan talent market — yaitu bagaimana perusahaan dipersepsikan oleh kandidat dan karyawan.

Ia menekankan bahwa employer branding harus berakar dari budaya dan dukungan manajemen.

Tanpa komitmen stakeholder, branding sulit berjalan karena membutuhkan investasi waktu, biaya, dan konsistensi.

Ahwi juga menyoroti perubahan perilaku Gen Z dan Gen Alpha yang lebih mementingkan pengalaman kerja, fleksibilitas, dan budaya kerja yang sehat dibanding loyalitas jangka panjang.

Karena itu, perusahaan perlu beradaptasi dengan pendekatan employer branding yang lebih human-centered.

Menurutnya, inti employer branding adalah employee experience — mulai dari onboarding, mentoring, hingga lingkungan kerja sehari-hari.

Pengalaman nyata inilah yang nantinya membentuk citra perusahaan di dunia kerja.

Baca juga: GajiHubTalk: Transformasi HR di Era Bisnis Modern

Sesi 2 — Novi (Senior Consultant Gajihub): HR Modern dan Peran Sistem dalam Employer Branding

Pada sesi kedua, Novi membahas employer branding dari perspektif sistem dan transformasi HR. Ia menyoroti tantangan HR modern seperti turnover tinggi, engagement rendah, dan beban administratif yang membuat HR sulit berperan strategis.

Novi menjelaskan bahwa employer branding terbentuk dari perjalanan karyawan secara menyeluruh, mulai dari rekrutmen, onboarding, performance management, hingga exit journey.

Ia juga menekankan pentingnya sistem kerja yang fair, KPI transparan, serta jalur karier yang jelas. Tanpa sistem yang kuat, employer branding hanya menjadi slogan tanpa fondasi.

Lebih lanjut, Novi menyoroti peran teknologi seperti HRIS dalam membantu transformasi HR. Dengan sistem yang terintegrasi, HR dapat mengotomatisasi proses administratif dan lebih fokus pada strategi pengembangan SDM.

Baca juga: GajihubTalk: Workplace Reboot – Adaptasi HR di Era Gen Z

Sesi Tanya Jawab Peserta Webinar

webinar gajihubtalk 4 2

Pada sesi penutup, peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan seputar implementasi employer branding di dunia kerja.

Berikut rangkuman tanya jawab yang paling menarik, lengkap dengan insight langsung dari narasumber.

1. Apakah employer branding hanya relevan untuk perusahaan besar?

M. Ahwy Karuniyado:

“Mau itu perusahaan kecil atau besar, tetap butuh employer branding. Karena sekarang kandidat itu lihat reputasi dulu sebelum melamar. Kalau enggak punya citra sebagai tempat kerja yang menarik, akan kalah saing di talent market.”

Ia menegaskan bahwa employer branding bukan soal skala bisnis, tetapi soal persepsi di mata calon karyawan.

2. Bagaimana memulai employer branding jika budaya perusahaan belum kuat?

Ahwi menjawab tegas:

“Employer branding itu bukan dimulai dari konten, tapi dari pengalaman karyawan. Kalau internalnya belum sehat, branding luar enggak akan tahan lama.”

Ia menyarankan perusahaan fokus lebih dulu pada perbaikan employee experience seperti onboarding, komunikasi, dan budaya kerja sebelum membangun eksposur eksternal.

3. Apakah employer branding harus mahal?

Ahwi berbagi perspektif realistis:

“Branding memang butuh waktu dan komitmen, tapi enggak harus mahal. Banyak hal simpel yang bisa dilakukan, kayak komunikasi terbuka, mentoring, atau kegiatan internal.”

Namun ia tetap menekankan bahwa employer branding tetap membutuhkan dukungan manajemen karena konsistensi adalah kunci.

4. Bagaimana cara meyakinkan manajemen tentang pentingnya employer branding?

Ahwi menekankan pendekatan bisnis:

“Kalau ngomong ke manajemen, jangan pakai idealisme. Pakai angka. Jelaskan dampaknya ke turnover, produktivitas, dan biaya rekrutmen.”

Menurutnya, employer branding akan lebih mudah diterima jika dikaitkan langsung dengan risiko dan performa bisnis.

5. Bagaimana menghadapi Gen Z yang mudah pindah kerja?

Ahwi menjelaskan dinamika generasi baru:

“Gen Z itu bukan enggak loyal, tapi mereka cari pengalaman. Kalau tempat kerjanya enggak berkembangin mereka, ya mereka pindah.”

Ia menambahkan bahwa retensi generasi muda harus dibangun dari pengalaman kerja yang bermakna, bukan sekadar kompensasi finansial.

6. Apakah media sosial wajib dalam employer branding?

Novi memberikan perspektif sistematis:

“Media sosial itu amplifier, bukan fondasi. Fondasinya tetap pengalaman nyata karyawan di dalam perusahaan.”

Menurutnya, konten employer branding akan lebih kuat jika lahir dari cerita autentik karyawan, bukan sekadar kampanye komunikasi.

7. Apa peran HRIS dalam employer branding?

Novi menjelaskan dari sisi transformasi HR:

“Kalau HR masih sibuk administratif, susah jadi strategic partner. HRIS bantu HR fokus ke pengembangan manusia, bukan sekadar operasional.”

Ia menambahkan bahwa sistem yang terintegrasi membuat pengalaman kerja lebih profesional dan transparan, yang berdampak langsung pada employer branding.

8. Apa kesalahan paling umum dalam employer branding?

Ahwi menutup dengan insight tajam:

“Kesalahan paling besar itu branding yang enggak sesuai realita. Kalau luar bagus tapi dalamnya enggak, karyawan sendiri yang akan bongkar.”

Ia menegaskan bahwa di era transparansi digital, reputasi perusahaan sangat bergantung pada pengalaman nyata karyawan.

Baca juga: Grow Beyond Limits – Bangun Bisnis dengan Mindset & People Strategy

Insight Utama dari Webinar

Webinar ini menunjukkan bahwa employer branding adalah kombinasi antara budaya, sistem, dan konsistensi.

Perspektif Ahwi menekankan fondasi budaya dan pengalaman karyawan, sementara Novi melengkapi dengan pendekatan sistem dan teknologi.

Employer branding tidak bisa dibangun hanya lewat konten media sosial, tetapi harus lahir dari pengalaman nyata karyawan yang kemudian menyebar secara organik.

Kesimpulan: Bangun Employer Branding yang Autentik dan Berkelanjutan

Employer branding bukan proyek instan, melainkan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan komitmen lintas fungsi.

Perusahaan perlu menyelaraskan budaya kerja, sistem HR, dan pengalaman karyawan agar citra yang terbentuk benar-benar autentik dan berkelanjutan.

Jika kamu ingin terus memperdalam insight seputar HR modern, transformasi digital, dan strategi employer branding yang aplikatif, jangan lewatkan webinar Gajihub berikutnya.

Dapatkan wawasan langsung dari praktisi, strategi relevan, dan inspirasi untuk membawa pengelolaan SDM di perusahaanmu ke level berikutnya.

sugi priharto

Tinggalkan Komentar