Duck Syndrome: Pura-Pura Bahagia Padahal Tertekan

duck syndrom

Dalam dunia kerja terdapat istilah duck syndrom yakni keadaan ketika seseorang berpura-pura bahagia padahal sedang tertekan.

Keadaan ini terjadi karena ia ingin menjaga citra baik di depan orang lain, sehingga tidak mau terlihat lemah.

Orang dengan duck syndrom ini memilih untuk menyembunyikan kelemahan mereka selain demi kesuksesan mereka, juga karena merasa tidak ada yang dapat memahami mereka.

Di dalam dunia kerja, ini sering dilakukan oleh karyawan dengan cara menunjukkan mereka baik-baik saja.

Biasanya mereka selalu mengatakan ‘siap’ atau ‘bisa’ setiap kali diberikan tugas, meski di balik itu mereka sebenarnya keberatan.

Jika keadaan ini terus disepelekan, dapat berdampak pada kesehatan mental dan juga kesehatan fisik, hingga akhirnya berdampak pada produktivitas.

Pada artikel ini GajiHub akan menjelaskan secara lengkap mengenai duck syndrom mulai dari pengertiannya, penyebab, gejala, dan cara mengatasinya.

Untuk lebih lengkapnya Anda dapat menyimak penjelasan yang ada di bawah ini:

Apa Itu Duck Syndrome?

duck syndrom

Duck syndrom merupakan keadaan di mana seseorang berpura-pura bahagia dan berpenampilan tenang, meski aslinya sedang merasa tertekan.

Istilah ini diambil dari analogi bebek yang sedang berenang dengan sangat tenang, tetapi sebenarnya kaki mereka berjuang dengan keras agar tubuhnya tetap bisa berada di atas permukaan air.

Di dalam dunia kerja, hal ini sering terjadi pada karyawan di mana mereka sedang mengalami tekanan dan persaingan kerja namun harus menunjukkan citra yang kompeten, meski sebenarnya mental mereka tidak baik-baik saja.

Mereka sebenarnya sering merasa cemas dan tertekan namun mereka harus mengabaikan perasaan tersebut demi mencapai tujuan yang diinginkan.

gajihub banner 2

Baca Juga: Corporate Stockholm Syndrom: Bagimana Cara Menanganinya?

Apa Penyebab dari Duck Syndrome?

duck syndrom

‘Sindrom bebek’ itu terjadi bukan tanpa alasan.

Berikut 5 penyebab terjadinya sindrom ini:

1. Tuntutan untuk Berprestasi

Penyebab pertama dari sindrom ini adalah tuntutan untuk berprestasi.

Dalam dunia kerja, karyawan memiliki tuntutan untuk terus berprestasi dan meningkatkan produktivitas dari waktu ke waktu.

Karyawan juga harus bisa memenuhi ekspektasi yang dimiliki oleh atasan dan membuat atasan tidak merasa kecewa.

Baca Juga: Pentingnya Mengetahui Tingkat Emosional Karyawan untuk HR

2. Budaya Kerja yang Kompetitif

Budaya kerja yang kompetitif juga menjadi penyebab seseorang mengalami sindrom bebek ini.

Jika karyawan ingin berkembang dan mengalami kenaikan jawaban, mau tidak mau karyawan harus berkompetisi dengan karyawan lainnya.

Karena budaya yang kompetitif ini membuat karyawan akhirnya mengabaikan masalah yang ada dan memaksakan diri untuk selalu tampil kuat.

3. Tidak Adanya Dukungan Emosional

Penyebab ketiga yang bisa membuat seseorang pura-pura bahagia adalah karena tidak adanya dukungan emosional, baik dari atasan ataupun rekan kerja.

Ini akhirnya membuat karyawan enggan terbuka ketika menghadapi kesulitan.

Baca Juga: Mental Block: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

4. Sifat Perfeksionis

Ada saatnya sindrom ini terjadi kepada karyawan dengan sifat perfeksionis.

Sikap inilah yang mendorong karyawan untuk menyembunyikan kekhawatiran ketika mereka merasa tidak memenuhi standar yang mereka tetapkan.

5. Self Esteem yang Rendah

Self esteem atau harga diri yang rendah juga membuat seseorang mengalami sindrom ini.

Ketika seseorang merasa rendah diri mereka rentan merasa kurang meski telah mengusahakan yang terbaik.

Pada akhirnya mereka akan terus berusaha dengan keras untuk menghadapi rasa rendah diri ini.

Baca Juga: Coping Mechanism: Pengertian, Jenis, dan Tipsnya

Bagaimana Gejala dari Duck Syndrome?

sindrom bebek

Ada 3 gejala yang dapat terlihat dari seseorang dengan sindrom ini, yakni sebagai berikut:

1. Adanya Gangguan Kecemasan

Gejala yang pertama adalah adanya gangguan kecemasan.

Ini menjadi gejala yang paling terlihat ketika seseorang mengalami sindrom bebek ini.

Dibandingkan merasa tenang, banyak dari mereka yang justru merasa cemas terhadap apa yang mereka miliki saat ini, termasuk terhadap pekerjaan mereka.

Mereka cemas akan masa depan, cemas tidak bisa memuaskan atasan, dan kecemasan lainnya.

Jika Anda sering mengalami kecemasan seperti ini, sebaiknya Anda jangan mengabaikannya dan cari solusinya.

Baca Juga: Atasan Pilih Kasih? Ini Contoh, Dampak, dan Cara Menghadapinya

2. Perubahan Perilaku

Selain dari sisi kesehatan jiwa, nyatanya sindrom ini juga bisa memberikan gejala dari fisik yakni perubahan perilaku.

Seseorang dapat kehilangan nafsu makan, sering menunda-nunda, hingga adanya perilaku gugup hingga sering menggigit kuku.

Ini adalah bagian dari rasa cemas di mana seseorang tidak tenang dengan keadaannya saat ini.

3. Kewalahan Emosional

Seseorang dengan kewalahan emosional merasa semuanya seperti ada di luar kendali dan kesulitan untuk menangkan pikiran mereka.

Ini juga dibarengi dengan perasaan cemas dan gugup ketika menghadapi sesuatu.

Baca Juga: Layanan Psikologi bagi Karyawan, Mengapa Penting?

4. Adanya Gejala Fisik

Gejala berikutnya dapat dilihat dari gejala fisik.

Seseorang dengan sindrom ini bisa mengalami energi yang rendah, kesulitan tidur, ketegangan otot hingga mual.

5. Merasa Rendah Diri

Terakhir adalah merasa rendah diri.

Apapun prestasi yang sudah didapatkan, seseorang tetap merasa rendah diri dan tidak memiliki apapun.

Mereka merasa buruk terhadap diri sendiri, merasa kesepian, dan sering membandingkan diri mereka dengan orang lain.

Baca Juga: Pengertian Workaholic, Tanda, Penyebab, dan Dampaknya

Bagaimana Dampak Duck Syndrome di Dunia Kerja?

Dalam dunia kerja, duck syndrom ini dapat memberikan dampak pada produktivitas yang dapat terhambat.

Selain itu juga dapat mengurangi kualitas hidup dan mereka sering kali bekerja lebih kerja hingga kesehatan mental dan fisik menjadi dikorbankan agar dapat terlihat memiliki kompetensi.

Jika ini tidak segera diatasi dan dibiarkan berlarut-larut dapat mengakibatkan burnout dan mengganggu kehidupan pribadi dan kehidupan profesional.

Dalam jangka panjang, keadaan ini dapat menurunkan performa kerja karena penumpukan stres yang tidak teratasi dengan baik.

Baca Juga: 6 Tanda Seorang Workaholic dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Cara Mengatasi Duck Syndrome?

duck syndrom

Agar permasalahan duck syndrom ini tidak memberikan pengaruh yang semakin besar, tentunya Anda harus segera mengatasinya.

Berikut 5 cara mengatasi sindrom ‘bebek’ yang dapat Anda lakukan:

1. Lakukan Konseling

Pertama, Anda dapat melakukan konseling dengan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Psikolog dapat menjadi rujukan bagi Anda yang ingin mengatasi permasalahan tanpa obat, di mana biasanya lewat terapi seperti jurnaling.

Sedangkan psikiater dapat menjadi rujukan ketika Anda membutuhkan obat, misalnya obat tidur untuk mengatasi insomnia.

Mencari bantuan dari profesional lebih cepat dapat membuat Anda lebih cepat mengetahui permasalahan Anda dan mencari solusinya secepat mungkin.

Baca Juga: Ramai Istilah Quiet Covering di Tempat Kerja, Apa Itu?

2. Belajar Mencintai Diri Sendiri

Cara mengatasi yang kedua adalah belajar mencintai diri sendiri.

Pahami bahwa diri sendiri berhak dicintai apa adanya tanpa harus membebani dengan ekspektasi yang berlebihan.

Ketika Anda dapat mencintai diri sendiri dengan baik, maka Anda dapat menerima keadaan Anda saat ini, meski belum sesuai dengan ekspektasi.

Pahami juga bahwa diri sendiri hanya manusia biasa sehingga tidak apa-apa jika tidak sempurna.

3. Jalani Gaya Hidup Sehat

Cara berikutnya adalah dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

Meski sindrom ini berhubungan dengan psikologis, namun dapat berdampak pada fisik dan dapat diatasi dari sisi fisik juga, yakni dengan gaya hidup sehat.

Ketika Anda memiliki gaya hidup sehat, baik itu dari rutin berolahraga ataupun dari konsumsi makanan yang seimbang dapat membuat Anda lebih rileks dan mengurangi kecemasan.

Baca Juga: Pengertian Overwhelmed Karyawan, Penyebab, dan Dampaknya

4. Luangkan Waktu untuk Me Time

Keempat, jangan lupa untuk meluangkan waktu untuk me time.

Tidak harus yang mahal atau mewah, Anda bisa me time sesuai apa yang Anda sukai, misalnya me time dengan berdiam diri di kamar.

Bisa juga dengan nongkrong di kafe sendiri atau memesan makanan sendiri.

Dengan me time Anda bisa memberikan waktu ke diri sendiri untuk lebih rileks dan menjadi cara untuk memulihkan energi sehingga bersemangat menyambut hari selanjutnya.

5. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Terakhir pastikan Anda berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain.

Membandingkan diri tidak ada akhirnya hanya membuat Anda semakin merasa kecil dan bukan apa-apa.

Alih-alih membandingkan diri sendiri dengan orang lain, Anda dapat mengapresiasi apapun kemajuan di dalam diri Anda.

Ini bisa memberikan energi positif dan mendukung Anda mendapatkan semangat dalam menjalani hari-hari.

Baca Juga: Work Life Conflict: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Kesimpulan

Itulah penjelasan lengkap mengenai duck syndrom yang dapat menjadi referensi Anda.

Dari penjelasan artikel di atas dapat diketahui bahwa duck syndrom merupakan fenomena di mana seseorang berpura-pura bahagia padahal dalam hatinya sedang tertekan.

Ini sering terjadi dalam dunia kerja di mana seseorang ingin tampil memuaskan di mata atasan dan rekan kerja sehingga mengabaikan permasalahan yang sedang dihadapi.

Tentunya jika Anda mengalami sindrom ini Anda harus cepat-cepat mengatasinya sebelum hal ini berdampak pada kesehatan mental dan fisik Anda, di mana akhirnya mempengaruhi kinerja di perusahaan.

Bagi perusahaan, pastikan Anda memberikan dukungan penuh kepada karyawan agar karyawan bisa bekerja dengan nyaman dan aman.

Salah satu hal yang wajib dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan pengelolaan karyawan dengan sebaik mungkin.

Gunakan software absensi dari GajiHub untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan di perusahaan Anda.

GajiHub merupakan software absensi yang dilengkapi berbagai fitur untuk mendukung kemudahan pengelolaan karyawan.

Yuk daftar GajiHub sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.

Desi Murniati

Tinggalkan Komentar